Petualangan Alam Liar

Pengalaman akan keindahan ciptaan Tuhan.

Keindahan yang kurasakan

Pergilah untuk meraih impianmu.

Traditional itu KEREN

Kehilangan Budaya adalah kehancuran Bangsa.

Bukan Emosi

Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarah.

Perenungan

Perenungan akan kesalahan-kesalah duniawi.

28 Oktober 2012

KULIAH VS SEKOLAH

Banyak banget yang berbeda antara kuliah dan sekolah,tapi ada juga persamaannya. Apakah dunia kampus memang seperti yang kita bayangkan ??

WAKTU
Perbedaan : Kalau masuk sekolah jam 06.30 atau 07.00 sampai siang/sore, saat kuliah jamnya jadi acak. Bisa jadi, kita ada kelas di pukul 09.00 – 11.00,kemudian baru lanjut kuliah lagi pukul 14.30. Atau,dalam seminggu kita hanya kuliah empat hari.Random banget! Terus, tidak ada lagi yang melarang kita bolos, tapi absensi bisa sangat mempengaruhi nilai. Hal lain yang menyenangkan dari kuliah adalah liburan semesternya lebih panjang,bisa sampai tiga bulan.

PELAJARAN
Perbedaan : Karena saat masuk universitas kita sudah memilih jurusan,maka mata kuliahnya pun lebih fokus sesuai bidang tersebut.Biasanya tiap semester akan ada 5 sampai 8 mata kuliah.Selain itu, sistem perkuliahannya adalah moving class.Kadang-kadang kita bisa dapat kelas besar dengan murid mencapai jumlah lebih dari 50 mahasiswa, kadang hanya kelas kecil yang pesertanya kurang dari sepuluh orang.

Persamaan : Di semester awal kita masih akan ketemu beberapa pelajaran dasar seperti Pancasila,Bahasa Inggris dan Bahasa Indonesia.
Kesimpulan : Walaupun banyak bedanya, tapi kita biasanya tidak susah untuk menyesuaikan diri.Kita juga akan menemukan banyak mata kuliah menarik yang bikin kita semangat belajar.Oh iya,lebih praktis  kalau kita tidak  membawa banyak buku tulis dan menggunakan satu binder file untuk berbagai mata kuliah.

Persamaan : Hampir tidak ada.Hanya saja masih ada kampus yang menerapkan kuliah paginya dimulai dari jam 07.00 , namun itupun seminggu hanya sekitar satu sampai dua hari saja.

Kesimpulan : Di sini tanggung jawab kita benar-benar diuji.Karena kita harus bisa mengatur waktu sendiri untuk belajar dan mengerjakan tugas yang pasti akan bertumpuk.Lengah sedikit saja,bisa jadi bikin kita ketinggalan mata kuliah.

NILAI
Perbedaan : Tidak ada sistem remedial atau ujian perbaikan.Kalau nilai kita jelek (nilai minimal C),resikonya adalah tidak lulus dan harus mengulang kembali mata kuliah tersebut selama satu semester.
Standar umum nilai yang bisa kita peroleh adalah : A (angka 80 ke atas),B (70-79), C (60-69), D (50-59), E (50 ke bawah).Untuk nilai A kita akan dapat poin = 4, B =3, C =2, D =1 ,E =0.
Tiap mata kuliah memiliki bobot SKS (Satuan Kredit Semester) tertentu dan nilai yang diperoleh akan dikalikan bobot tersebut.Misalnya mata kuliah X memiliki bobot 4 SKS,dan nilai kita adalah B (3 poin),berarti total nilai kita untuk mata kuliah tersebut adalah 4x3 = 12.
Nantinya,dari rata – rata nilai seluruh mata kuliah akan muncul IP (Indeks Prestasi),dengan skala 1 sampai 4.Untuk bisa lulus,kita harus mengumpulkan jumlah SKS tertentu.Biasanya untuk jenjang S1 adalah 144 SKS,yang umumnya bisa dicapai dalam 8 semester.

Persamaan : Ada UTS (Ujian Tengah Semester) dan UAS (Ujian Akhir Semester) untuk tiap mata kuliah.Bedanya,ujian bisa berbentuk tes biasa dan bisa pula open book atau tugas (take home test).Itu tergantung kebijakan dosen.

Kesimpulan : Harus aware dengan nilai kita sendiri.Usahakan jangan sampai mengulang mata kuliah,karena bisa menghambat kelulusan.

PENGAJAR
Perbedaan : Dosen tidak akan repot – repot mengingatkan kita untuk mengumpulkan tugas atau memperhatikan pelajaran.Di sini kitalah yang tanggung jawab penuh terhadap diri sendiri.

Persamaan : Seperti guru,dosen juga punya berbagai karakter,ada yang killer,santai,seru dan banyak lainnya.

Kesimpulan : Dengan perbedaan yang cukup signifikan,kitalah yang harus berusaha keras untuk menangkap materi dari dosen dan menggali ilmu mereka.

PERGAULAN
Perbedaan : Kalau waktu sekolah masih ada geng populer,dan ada orang – orang yang berusaha masuk geng tersebut,maka agak berbeda dengan di kampus.Di bangku kuliah,bisa dibilang siapa saja bisa bersinar dengan keunikan dan kelebihannya masing-masing.Sebaliknya,orang yang pilih – pilih dalam bergaul, akan susah untuk bertahan.Soalnya,di sini kita harus kerjasama dengan banyak teman.Tapi, di saat kuliah pula kita jadi punya kecenderungan untuk lebih individual.

Persamaan : Anggapan yang bilang kalau kekonyolan,seru – seruan dan sobat kental nggak bakal bisa lagi ditemukan saat kuliah,salah besar.Semua kesenangan itu tetap ada di universitas.

Kesimpulan : Banyak yang bilang saat inilah masa kita menemukan jati diri, termasuk dalam pergaulan.Memiliki prinsip kuat dan jujur menjadi diri sendiri adalah kunci sukses bergaul di kampus.


SENIORITAS
Perbedaan : Status senior dan junior tidak begitu berpengaruh lagi.Kita akan membutuhkan satu sama lain.

Persamaan : Saat awal masuk kuliah,senioritas masih terasa,karena kita akan mengalami masa orientasi.Namun,jangka waktu dan bentuk senioritas ini tergantung culture universitas dan jurusannya.Tapi,umumnya ini dilakukan untuk tujuan baik dan disiapkan dengan matang.Semacam latihan kepemimpinan.

Kesimpulan : Berteman dengan junior dan senior akan membawa banyak manfaat bagi kita.

OUTFIT
Perbedaan : Good bye seragam sekolah!Di mayoritas universitas,mahasiswanya pakai baju bebas.Di sinilah kita bisa mengeksplorasi gaya.Tapi ingat,kita k eke kampus lho,bukan party.Gaya andalan saat ke kampus adalah yang nyaman,effortless,dan mencerminkan diri kita.Yang tidak kalah penting adalah mengasah kemampuan mix and match.Soalnya,pasti kita akan merasa kehabisan baju untuk dipakai tiap hari.

Persamaan : Ada beberapa fakultas atau dosen yang menerapkan aturan khusus dalam berpakaian, seperti harus pakai sepatu atau atasan berkerah.

Kesimpulan : Ketahui dulu rules di tempat kuliah,barulah kita bisa bereksplorasi dengan koleksi pakaian yang dimiliki.Basic item wajib punya = kaos putih berkerah,kemeja semi formal,celana hitam,jeans,sepatu kanvas,flat shoes,/sepatu sandal,plus tas besar (berguna banget untuk bawa buku kuliah yang tebal!)


EKSTRAKURIKULER & ORGANISASI
Perbedaan : Biasanya tidak disebut OSIS dan ekskur,melainkan Senat/BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa) dan UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa).Untuk UKM,pilihan kegiatannya akan lebih beragam.Sementara untuk senat,organisasinya akan lebih kritis dan mengurusi banyak hal,termasuk pengabdian kepada masyarakat.Jadi tanggung jawabnya lebih besar.

Persamaan : Sama – sama kegiatan ekstra di luar pelajaran/kuliah resmi.

Kesimpulan : Penting diingat untuk memilih kegiatan berdasarkan minat pribadi dan manfaatnya bagi kita,jangan karena ikuta

PENSI & ACARA
Perbedaan : Tanggung jawab mahasiswa yang menjadi panitia acara akan lebih besar, dari mulai izin,acara,hingga semua biaya.
Persamaan : Tetap ada kegiatan hiburan seperti RULES!

Perbedaan : Di kampus,aturannya tidak terlalu ribet.Tidak ada lagi yang mengatur warna sepatu ,harus upacara,atau tidak boleh bawa HP.Dan tidak ada pula yang namanya guru BK.Jika kita terlibat masalah, orangtua pun biasanya tidak akan dilibatkan.

Persamaan : Tetap ada aturan mainnya.

Kesimpulan : Walaupun dalam beberapa hal akan lebih santai dan tidak banyak aturan,tapi bukan berarti kita bisa meremehkan ketentuan yang ada.Sebaliknya,peraturan yang ada,akan diterapkan secara tegas oleh pihak kampus.Bahkan universitas papan atas tidak segan untuk member skorsing,ketidaklulusan,bahkan sangsi DO (Drop Out) jika sampai kita mencoreng almamater.

Pensi dan acara menarik lainnya.
Kesimpulan : Siap – siap ikutan berbagai acara yang makin seru serta makin banyak dan beragam di banding waktu SMA.

24 Oktober 2012

Aktivis atau Akademis


Mahasiswa dibenturkan kepada dua pilihan yaitu menjadi mahasiswa berorganisasi atau menjadi mahasiswa yang hanya mengejar nilai di kelas untuk prestasinya, hal tersebut bisa membingungkan untuk semua mahasiswa, hal tersebut tidak hanya sebagai pilihan semata, namun harus menjadi jalan hidup di kampus, pribadi seorang mahasiswa bisa terbentuk ketika dia terjun di organisasi dalam kampus ataupun organisasi luar kampus, dikarenakan seorang mahasiswa bisa membentuk karakter dari pergaulan dengan orang-orang yang berada di organisasi, dan dalam organisasi mahasiswa diajarkan dalam beberapa hal yaitu, belajar untuk memenej hidupnya, di mana fikiran dia akan terbagi-bagi, anatara ber organisasi dan tujuan utama dari rumah yaitu mengejar prestasi akademis, hal tersebut merupakan suatu faktor penghamabat mahasiswa untuk terjun di organisasi karena mahasiswa terbebani oleh ketakutan bahwa terjun di organisasi akan menghambat study, namun hal tersebut tidak bisa dikatakan benar, malah ketika di organisais mahasiswa justru bisa lebih mengejar prestasi kelas dan hidup, mengapa bisa begitu? Karena , ketika di organisasi mahasiswa akan terlatih untuk mengatur waktunya antara kuliah dan berorganisasi, disamping itu di organisasi kita banyak mengalami pengalaman yang sangat bermanfaat untuk menjalani hidup ini.

Apalagi kalo mahasiswa tersebut menjadi aktivis yang benar-benar aktivis, yaitu maahsiswa yang matang akan pengalaman berorganisasi, bukan hanya setengah-setengah menjadi akitivis. Banyak orang-orang mengatakan bahwa mahasiswa yang terjun di organisasi hanaya mengejar popularitas saja di kampus, yaitu bisa dikenal oleh dosen dan mahasiswa terutama adik tingkat, namun hal tersebut tidak bisa dipungkiri oleh sebagian besar aktivis kampus, namun hal tersebut harus menjadi batu loncatan mahasiswa yang berorganisasi untuk lebih bersemanagat berorganisasi, hal tersebut merupakan sebagian kecil dari manfaat berorganisasi manfaat lainnya sangat banyak ketika seorang mahasiswa berorganisasi.

Dan ketika melihat mahasiswa yang tidak mau terjun di organisasi maka pihak birokrat kampus telah gagal untuk mendidik mahasiswanya, karena seseorang yang matang dikelas belum tentu dia bisa matang hidup sosialnya, faktor tersebut diakibatkan kurangnya rangsangan dari pihak birokrat kampus untuk bisa merangsang mahasiswanya untuk terjun diorganisai,hal tersebut merupakan masalah yang cukup serius bagi dunia pendidikan di Indonesia yang hanya mengejar dari segi keilmuan dikelas saja.

17 Oktober 2012

Choice


Setiap manusia disuguhkan dengan beberapa pilihan mengenai kehidupan. kaya, miskin, pandai, bodoh, kurang, lebih, semuanya adalah pilihan, dan semuanya kembali kepada si pelaku kehidupan itu, apakah memilih sesuatu yang nantinya akan bermanfaat bagi dirinya sendiri, ataukah akan memilih sesuatu yang tidak ada manfaatnya bagi si pelaku kehidupan.
memilih sebuah pilihan terkadang tidak disadari oleh pelaku kehidupan itu sendiri, maka akan muncul istilah dalam bahasa jawa "blangkon benthole nang mburi, getun tibo mburi" kalau di artikan dalam bahasa Indonesia adalah menyesal pada akhirnya, karena pelaku tidak memikirkan dan memperhitungkan apa-apa yang dilakukannya, maka ia menyesal telah melakukan kesalahan.
dewasa ini pun para pemuda yang mengatakan bahwa dirinya adalah agen of change bagi kehidupan, ternyata juga sangat sulit untuk menentukan sebuah pilihan, terkandang banyak nilai-nilai yang berbenturan dengan pemikiran mereka, apalagi pemikiran tersebut datang dari pemikiran orang tua, pasti para orang tua itu akan mengatakan "le, sing nyekolahno awakmu iku sopo? kok wani nuturi wong tuwo? mbokmu ki wes mangan uyahe dunyo pirang tahun, kok ijek sampeyan ceramahi" dalam artian para orang tua, walaupun mereka yang menginginkan anaknya tumbuh menjadi manusia yang beradap dan berpendidikan tapi mereka pulalah yang sering membenturkan pemikiran mereka yang masih dulu dengan pemikiran anaknya yang telah mengerti kondisi sosial di luar sana. kebimbangan pun muncul pada anak ketika orang tua telah dawuh seperti itu.
hmmm, butuh pemikiran yang mendalam, butuh argumen yang meyakinkan untuk bisa membuat jembatan pemikiran, agar pemikiran dulu dan sekarang bisa berjalan dengan damai, tanpa adanya pengempesan pemikiran. bagi para pemuda Indonesia siapkan diri kalian untuk bisa mengatasi perubahan kehidupan, menjadi pemikir atau sekedar penganut kehidupan. semua itu adalah PILIHAN!! :)

08 Oktober 2012

Dosen dari Aktivis Kampus


Tulisan ini sengaja dibuat sebagai bahan renungan dan mungkin menjadi bahan pertimbangan pihak terkait, seiring dengan akan dibukanya lowongan CPNS Dosen pada Juli 2012 oleh pemerintah. Saya bukan ingin men-justifikasi bahwa dosen yang berasal dari aktivis kampus itu lebih baik, atau ingin mengatakan bahwa aktivis kampus itu harus menjadi dosen, atau tidak pula ingin men-generalisasi semuanya menjadi sederhana.

Saya hanya ingin berbagi cerita, bahwa ternyata (berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi) – para dosen yang dulunya aktivis kampus, terlihat lebih care terhadap masalah-masalah kampus (khususnya kemahasiswaan) dan lebih bijak melihat masalah negeri ini (korupsi, kolusi dan nepotisme).  Saya melihat bahwa; yang gerakannya lebih cekatan, yang interaksi sosialnya lebih cair, yang lebih dekat dengan mahasiswanya, yang kemampuan komunikasinya lebih cakap, yang daya kritisnya lebih kentara, yang kemampuan manajerialnya lebih mumpuni, rata-rata berasal dari komunitas aktivis kampus dulunya.

13418092131265335833Ya, mereka dulunya adalah aktor-aktor gerakan mahasiswa, ada yang di himpunan mahasiswa jurusan, ada yang di senat mahasiswa atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), ada yang di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), jabatannya pun beragam: mulai dari ketua, sekjen, koordinator atau staff  biasa, tidak jarang  pula, ada yang dulunya aktif di organisasi ekstra universiter, seperti : KAMMI, HMI, PMII, IMM, dsb. Semasa di kampus, mereka berjibaku dengan segudang aktivitas sosial, mereka tidak egois, dengan hanya belajar untuk semata mengejar IP (Indeks Prestasi) yang tinggi, an sich.

Mereka tahu benar suka dukanya berorganisasi, berdemonstrasi untuk meng-advokasi masalah negeri, berdiskusi dan berdebat dengan birokrasi (dari level jurusan, fakultas, universitas bahkan pejabat negara), mereka bepergian wara-wiri ke kampus lainnya untuk menjalin komunikasi, tak jarang ‘lembur’ menginap di kampus untuk menggarap kegiatan (semisal: OSPEK, bakti sosial, seminar, demonstrasi, dsb) – mereka pun merasakan sulitnya membagi waktu antara studi dan organisasi (bahkan kabarnya, dulu banyak pula aktivis kampus, yg terpaksa harus DO/Drop Out karena “lupa” memikirkan studi). Namun, tidak sedikit dari mereka yang muncul sebagai ‘bintang’ dalam kancah akademik, mereka punya prestasi akademik yang membanggakan, bahkan lebih baik dari teman-temannya yang hanya KP-KP (kuliah pulang-kuliah pulang).

Setelah menjadi dosen, bekas-bekas itu pun tidak hilang, saya melihat mereka (dosen yang aktivis kampus), lebih cekatan untuk mendengar keluh kesah mahasiswa, mau berjibaku secara sukarela dengan berbagai kegiatan mahasiswa (tanpa mengharap tanda tangan honor/transport), siap melayani diskusi untuk sekadar brainstorming terhadap masalah negeri, mau bermalam dan berkumpul bersama dgn mahasiswa (tidak hanya lembur untuk mengerjakan proposal akreditasi atau penelitian kampus), bahkan tak jarang di antara mereka yang rela merogoh kocek pribadinya untuk membantu kesulitan mahasiswa – bahkan yang menjadikan saya haru adalah di antara mereka ada yang membantu biaya SPP dari mahasiswanya yang kesulitan/tidak mampu, SUBHANALLAH….

Ya, menurut saya…..begitulah seyogyanya DOSEN (baca: pendidik), tidak cukup hanya modal PINTAR atau JENIUS saja, tidak hanya cukup berasal dari JEBOLAN PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTS (Perguruan Tinggi Swasta) ternama atau pun Kampus Luar Negeri yang hebat, namun mereka PRAGMATIS, CUEK, MISKIN HATI dan tidak peduli dengan kondisi kampusnya, tidak care dengan kesulitan mahasiswanya, apatah lagi masalah negeri ini. Ukuran prestasinya hanya semata karena jumlah penelitian yang dilakukannya, jumlah paper yang ditulisnya, jumlah “materi” yang diterima dari efek profesinya. Wah, sudah begitu banyak “orang pintar negeri” ini yang hanya memikirkan isi perutnya sendiri, tidak peduli thd biaya edukasi yang terus membumbung tinggi yang tidak terjangkau oleh rakyat negeri ini karena semuanya diukur dengan materi atas nama profesi. Model dosen yang seperti ini akan sangat antipati terhadap kritisasi mahasiswa, takut demo atau didemo mahasiswanya, bahkan acapkali muncul lontaran kalimatnya yang bernada SINIS bahkan cenderung MEREMEHKAN: “ngapain sih, kalian mahasiswa demo-demo segala?”, “sudahlah kuliah saja yang benar, rajin saja belum tentu lulus!”, “hei, jangan sok jadi pahlawan ya, emang kalian siapa, emang suara kalian ada yang dengar?”.

Sangat sulit memang bagi para aktivis kampus ini untuk menjelaskan dari A sampai Z kepada dosen yang model begini, mengapa mereka berdemonstrasi (turun ke jalan) dan mengapa mereka berdebat dengan birokrasi tentang masalah negeri. Ya, karena dosen model ini - cukup nyaman dengan kondisinya tanpa harus cape-cape memikirkan yang lainnya, cukup baginya untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi saja (mengajar yang “baik”, melakukan “penelitian” dan kegiatan “pengabdian masyarakat”). Beberapa aktivis mahasiswa mengeluhkan, “model dosen kayak ini, nggak nyambung-walaupun sudah dijelaskan berkali-kali” atau “mereka, nggak punya hati, kalee….” atau “susah nih dosen diajak ngobrol, nggak gaul sih ketika mahasiswa…!”.

Menurut subjektifitas saya, jika kampus dipenuhi oleh dosen berkarakter seperti ini, saya yakin - lambat laun namun pasti, kampus akan berubah menjadi Laboratorium Pembuat Robot yang mencetak manusia cerdas dengan kemampuan intelektual tinggi, namun miskin hati dan tidak memiliki empati. Boro-boro mendiskusikan ttg negara,  emang gue pikirin !

—————————–
Sumber : Coretan seorang Guru, aktivis Reformasi 1998

02 Oktober 2012

Cara dapetin Cewek gak Pake duit /ganteng

Buat semua juragan yang sedang mengincar seseorang yang di idam-idamkan ...
Gw punya beberapa trik-trik bagus nih yang wajib dimiliki para juragan:

1. Muka Badak Hati Baja

Buat yang punya wajah pas-pasan ... alias ganteng enggak, buruk rupa udah pasti ! Enggak usah minder dulu ... lu mesti nunjunkin modal lain yang bisa bikin cewek tertarik . misalnya kalo lu jago ngomong atau ngebuat humor-humor kocak itu juga bisa buat menarik perhatian cewek yang lu incer ... Nah apalagi kalo lu punya kemampuan dalam bidang olahraga atau musik ... pasti bakal jadi nilai tambah buat ngedeketin dia....

2. Otak Lebih

Asal tauk gan .... sekarang tuh cewek udah pinter-pinter .... kebanyakan punya wawasan luas di berbagai bidang dan selalu meng-update informasi terbaru ... Oleh karena itu kita jangan mau kalah ... kalo bisa kita harus selangkah lebih maju dari si dia ... biar makin tertarik ...

3. Bersih Dan Wangi

Ini yang susah bagi para cowok buat dilakuin ... tapi rata-rata tuh semua cewek suka ama cowok bersih dan wangi .... Emang sih , ada juga cewek yang suka ama cowok yang tampilannya agak berantakan, dibandingkan cowok necis .... Tapi kalo seberantakan-seberantakannya cowok, pasti ogah kalo ceweknya bau dan dekil ... mana ada yang mau deketin ... enggak selamanya cowok bersih dan wangi tuh brarti cowok genit ....

4. Just Be Yourself

Bukannya jaman jaim-jaiman gan ... karena banyak cewek yang trauma ama cowok jaim ... awalnya sih tertarik banget karena cowok yang ngedeketin keliatannya baik dan perhatian ... tapi ketika dah jadian kok malah berubah banget ... Makanya dari awal tunjukin diri kita apa adanya... kalo kantong pas-pasan jangan sok tajir ... percaya deh kalo cewek bakal hormat ma kita ...

11 September 2012

Membangun Gerakan Mahasiswa Melawan Kaum Borjuasi NasionalMembangun Gerakan Mahasiswa Melawan Kaum Borjuasi Nasional


Melihat realitas sekarang ini, pergerakan mahasiswa sudah mulai mengalami stagnanisasi. Apakah mahasiswa sudah kehilangan identitas ? ataukah medan gerak mahasiswa telah terpenjara oleh sistem sehingga memunculkan pragmatisme dan apatisme dikalangan kaum intelektual sendiri.

Padahal Sang proklamator sebagai Pemimpin Besar Revolusi telah mengamanatkan kepada mahasiswa dan pemuda-pemudi, agar melalui persatuan dan kesolidan mampu menjadi agen perubahan sekaligus kaum intelektual pengimbang rezim pemerintahan.

Menurut akar sejarah bangsa indonesia mulai masa pergerakan nasional Boedi Oetomo 1908 dan Pemuda 1928, kemerdekaan 17 Agustus 1945, Soe Hok Gie tahun 1966, masa Orde Lama, masa Orde Baru sampai masa Orde Reformasi yang sepenuhnya dimotori oleh pergerakan pemuda dan mahasiswa dalam menegakan tonggak kemandirian bangsa secara jelas.

Namun dalam mencermati perjalanan reformasi seiring dengan proses transformasi kepemimpinan nasional, terdapat sejumlah hal yang patut disimak. Yakni berbagai hal kegiatan yang bernuansa politik muncul dipermukaan, dari yang serius bahkan yang bersifat dagelan muncul tanpa ada rem cakram pencegahnya alias blong.

Mulai dari detik, menit, hari, minggu, bulan, tahun hingga saat ini, pengaruh akan mahasiswa dalam melakukan pergerakan serta perubahan Bangsa Indonesia tenyata telah ditutupi oleh mereka yang menjalankan birokrasi secara KKN, yang semakin parah seiring dinamika negeri ditambah lemahnya daya ingat Anak Bangsa akan tragedi saat ini sehingga kemudian nyaris menuju peti es atau malah cukup menjadi arsip catatan sejarah.

Bercermin dengan kasus yang telah terjadi sebelumnya serta masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan secara tuntas, mulai dari pembunuhan massal 1965, pelanggaran HAM di Aceh dan Papua, Kasus Tanjung Priok, Kasus Way Jepara-Lampung, Penculikan Para Aktivis Pro-Demokrasi 1997/1998, Kasus 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, Tragedi Mei 98, Tragedi Semanggi I, Tragedi Semanggi II, Kasus Ambon, Kasus Poso, Kasus Pembunuhan Pejuang Penegak HAM Munir, Priok Berdarah, Kasus Korupsi pada tiap bank mulai dari BI, BLBI, Bank Century, hingga Markus yang didalangi dan dibekingi oleh elit-elit politik dan pejabat-pejabat teras yang haus harta dan kekuasaan hingga tega mengorbankan dan menindas rakyat.

Begitu juga dengan kasus yang terjadi di daerah kita sumatera barat yang masih belum mendapat kejelasan-kejelasan sampai detik ini.

Permainan ketoprak humor para politisi ini mulai membingungkan rakyat bahkan cenderung membawa rakyat kepada keputusasaan sosial, ekonomi yang morat-marit, budaya yang semakin terkikis, dan program pendidikan yang tidak jelas sehingga makin membawa rakyat menuju jurang ketidakpercayaan atas perjalanan reformasi dan demokratisasi.

Persoalan ini menjadi dilema yang seakan-akan sulit terpecahkan.

Demikian juga dengan gerakan pro demokrasi yang sangat sulit untuk melepaskan diri dari beban mental proses reformasi ini, ditambah kemunculan kekuatan-kekuatan fundamentalis makin menampakan wajah sangar dari sebuah bias reformasi, entah atas nama kepentingan murni ataukah hanya karena kepentingan kelompok atau bahkan bagian tidak terpisahkan dari strategi kekuatan pro status quo dalam upaya pengalihan tuntutan reformasi sejati dan semua peristiwa yang ada menjadikan daya gerak dan daya dobrak kaum pergerakan menjadi makin keblinger.

MAU KEMANA GERAKAN MAHASISWA?

Pertanyaan yang sekiranya muncul adalah sebuah retorika yang tidak terlalu membutuhkan jawaban teoritis namun justru membutuhkan kerja praktis dan kongkrit

Posisi dilematis memang sedang dihadapi oleh kalangan gerakan pro demokasi terutama gerakan mahasiswa yang sedang dalam keadaan ironis.

Perubahan konstelasi politik yang berubah cepat hampir setiap sepersekian detik, sangat mempengaruhi kajian dan analisa dari gerakan mahasiswa dan secara tidak langsung sangat mempengaruhi kinerja dari gerakan mahasiswa.

Secara tidak langsung kemudian timbul sebuah pertanyaan dalam jiwa kita apa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah kancah permainan dan manuver borjuasi nasional ini?

Kembali Ke Sektor Kaum Buruh dan Rakyat

Tentunya akan ada pertanyaan lanjutan dari pernyataan ini. Diakui atau tidak bahwa rakyatlah yang paling menentukan dalam proses perubahan bangsa ini, dan gerakan untuk kembali ke rakyat harus dimulai dalam upaya membangun kesadaran politik di kalangan msyarakat bawah (grass root).

Tidak akan pernah ada revolusi yang berhasil tanpa disertai oleh massa yang sadar (Soekarno), pernyataan dari mantan revolusioner tersebut seharus dicamkan oleh kalangan gerakan mahasiswa jika ingin mewujudkan perubahan yang sejati.

Penyadaran itu dapat dimulai dengan mengadakan pendampingan-pendampingan pada daerah berkasus, dan ini sangat signifikan untuk dilakukan karena pada dasarnya jiwa perlawanan ada pada setiap manusia yang mengalami penindasan secara langsung.

Namun perlu ditegaskan disini, pendampingan sekaligus penyadaran politik bukan berarti datang dan terus menjadi malaikat.

Kesadaran yang dibangun bukan dengan memberikan pendidikan sistematis ataupun pendidikan ala bankir, dimana masyarakat hanya menerima dan dijejali dengan teori tertentu sebagai upaya penyadaran hak sebagai warga negara, namun yang lebih mendasar adalah memberikan penyadaran tentang hak mereka dan selanjutnya menempatkan masyarakat ini sebagai subyek dari proses pendidikan ini.

Pendidikan ini dikatakan berhasil apabila masyarakat sudah bisa melepaskan diri dari sikap fatalismenya dan mempunyai mobilitas yang tinggi serta secara aktif terlibat dalam sistem politik. Penumbuhan kesadaran ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya bahaya laten kerinduan terhadap Orde Baru dan juga hegemoni rezim korporatokrasi, pada akhirnya pendidikan ini berupaya untuk membuat rakyat memiliki, Goldman, kesadaran riil melalui kesadaran yang sangat memungkinkan (real consciuosness through maximal possibble consciuosness, Paulo Freire) yang merupakan inti dan dasar dari sebuah revolusi.

Kembali Ke Kampus

Bukan berarti bahwa gerakan kembali ke kampus disini sama dengan gerakan NKK/BKK, tapi berupa penilaian dan refleksi yang sangat obyektif dalam memandang arah dan pola gerakan mahasiswa. Berkaca dari gerakan mahasiswa di daratan Eropa dan Amerika Latin tahun 60-an, dimana sebagian besar gerakan rakyat tumbuh dari akumulasi gerakan / gejolak dalam kampus.

Ini seharusnya menjadi acuan yang sangat mendasar bagi pola gerakan di negara ketiga khususnya Indonesia.

"Kembali ke kampus" bukan berarti mahasiswa untuk seterusnya menjadi kutu buku, namun gerakan ini harus mulai membangun kekuatan untuk sebuah revolusi pendidikan.

Mau tidak mau harus diakui bahwa menyurutnya gerakan mahasiswa juga sebagai akibat dari sistem pendidikan Indonesia yang sangat menindas.

Kondisi ini yang sekarang harus mulai didobrak oleh kalangan pro demokrasi, dan ini telah dilakukan oleh sebagian besar kampus di Indonesia, namun semua ini barulah pada tahapan permukaan belum pada tataran yang lebih substansional.

Penyadaran tentang hak politik mahasiswa dan pemahaman tentang penindasan negara melalui sistem pendidikan harus mulai diinjeksikan kepada kalangan grass root mahasiswa sebagai upaya membangun kekuatan dan konsolidasi menghadapi manuver kaum borjuasi nasional.

Sehingga dalam kurun beberapa waktu kedepan bukan sekadar segelintir aktivis mahasiswa tetapi akan tumbuh ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang siap untuk revolusi.

Dua hal ini sekiranya yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah permainan elit politik sekarang ini. Dengan mempertimbangkan situasi nasional dan psikologis rakyat yang sudah mulai jenuh dengan perjalanan reformasi total yang belum tuntas, sudah seharusnya gerakan mahasiswa mengubah pola gerak yang ada, namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi tiap daerah tertentu.

Namun begitu disadari bahwa kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar dibatasi oleh lautan, tidak memungkinkan melakukan gerakan seperti mahasiswa di belahan Amerika Latin dan Eropa dengan pola bola saljunya.

Tetapi keterbangunan musuh bersama (common enemy) dikalangan gerakan mahasiswa terutama di kalangan gerakan mahasiswa yang radikal sudah semestinya dilakukan untuk sebuah gerakan yang masif.

Dengan melakukan penyadaran di kedua sektor ini maka suatu saat dalam sebuah momentum politik yang tepat, maka diyakini akan timbul sebuah perlawanan dari rakyat yang sadar.

Dan pola ini bukan berarti meninggalkan tuntutan reformasi tetapi justru menjadi entry point yang sangat kuat untuk melangkah kepada tuntutan itu dengan meminimalisir ketakutan rakyat akibat kesadaran politik yang semu dari negara.

Membangun kekuatan dimana rakyat melakukan perlawanan bukan atas dasar ajakan tetapi lebih karena sadar akan adanya ketertindasan. Educacao como practica da liberdade (Paulo Freire), pendidikan adalah sebagai praktik pembebasan keyakinan akan massa yang sadar dan keyakinan akan sebuah pendidikan pembebasan, maka sudah seharusnya gerakan mahasiswa tidak ragu-ragu lagi dengan gerakan penyadaran dan pengorganisiran massa.

Salam Perjuangan Kawan.!!!!


Sumber : Kariadil Harefa, (Mentri Luar Negeri Badan Eksekutif Masyarakat Mahasiswa Universitas Bung Hatta)

09 September 2012

Tips Cara Mendapatkan Pacar Cewek Cantik

Siapa yang nggak ingin dapat cewek cantik atau cakep untuk dijadikan pacar. Nah, gimana tips atau cara mendapatkan pacar cewek cakep?

1. Penampilan (fashion)

Penampilan fashion itu adalah hal yang paling pertama dilihat dan faktor pertama yang bisa bikin cewek tertarik. Menurut psikolog, cewek menilai penampilan cowok hanya dalam waktu beberapa detik. Kalo penampilan si cowok dianggap menarik, cewek akan menganggap cowok itu sebagai cowok yang potensial untuk menjadi lebih dari sekedar teman.

Kalo penampilan agan kurang maksimal, hal ini bisa berakibat menjadi kurangnya rasa percaya diri kamu dalam hal urusan deketin cewek. Coba liat deh cewek yang berkualitas, pasti selalu berpenampilan terbaik kemanapun pergi. Jadi buat kamu yang merasa penampilannya kurang menarik silahkan di upgrade penampilannya, dijamin bakal ada efek positif buat diri kamu.

2. Grooming

Artinya kamu mesti merawat diri. Contohnya: muka gak boleh kusam, kumis atau jenggot gak boleh berantakan, bulu hidung gak kepanjangan,dll. Kalo cewek cantik aja menghabiskan waktu berjam-jam untuk merawat dirinya supaya terlihat lebih cantik, pun cowok yang dia cari adalah cowok-cowok yang terawat pula. Terawat bukan dalam arti bersolek sama kaya cewek ya.

3.Kemampuan Romansa

Nah sebenernya poin ketiga ini yang jadi senjata utama buat dapetin cewek cakep manapun, kamu mesti tau gimana cara membuka sebuah pembicaraan sama cewek yang belum kamu kenal. Trus gimana sih cara PDKT yang tepat biar gak sakit hati, trus gimana sih cara SMSan yang bener supaya gebetan makin lengket. Jangan sampai salah langkah, bisa-bisa gebetan jadi ilfiel.

Nah itu tadi Cara Mendapatkan Pacar Cewek Cantik  Semoga bermanfaat buat sobat semua :)

(sumber: kaskus)

04 September 2012

Mahasiswa Apatis VS Idealis


Mengutip judul pernyataan salah seorang kawan dalam postingan tulisannya di situs jejaring sosial. Mahasiswa yang apatis versus mahasiswa idealis (aktivis). Saya tertarik untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan mahasiswa.? Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahun 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Mengapa Harus Mahasiswa???

Mungkin dalam benak kita muncul pertanyaan itu. Mengapa harus mahasiswa, siapa sebenarnya mahasiswa? Berdasarkan karakterisitik alamiahnya, mahasiswa memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan elemen – elemen masyarakat lainnya. Sebagai seorang yang memiliki jiwa muda, mahasiswa merupakan sesosok figur yang bisa dikatakan memiliki karakter yang masih memiliki idealisme yang tinggi dalam berjuang, mereka tidak segan – segan untuk menyuarakan kekesalan dan kritik mereka terhadap siapapun yang mereka anggap menyimpang dari kondisi ideal. Mahasiswa merupakan sosok insan akademis yang sedang menjalankan aktifitas pendidikan yang terbilang tinggi sehingga mereka beranggapan bahwa ilmu yang mereka dapatkan merupakan sebuah senjata pamungkas untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Mahasiswa juga dikenal kreatif dalam membangun ilmu yang didapatkannya serta mengaplikasikannya ke masyarakat karena secara biologis mahasiswa masih memiliki kondisi yang fresh untuk berpikir dan bertindak secara fisik. Mahasiswa juga memiliki keingintahuan dan sikap kritis yang tinggi terhadap kondisi di sekitarnya, dan dengan modal intelektualitas yang ia punya ia senantiasa mampu untuk memperjuangkan kondisi sosial yang dilihatnya agar menjadi lebih ideal dan dinamis.

Mungkin hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa mahasiswa yang selalu menjadi aktor peradaban dan tulang punggung perjuangan bangsa dalam membangun peradabanya, bahkan seorang Soekarno juga mengakui kemampuan yang dimiliki pemuda mahasiswa tersebut melalui statementnya “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Dan memang begitu lah kenyataannya dan fakta yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Namun Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan jati dirinya. Jika dulunya mahasiswa terlihat garang terhadap birokrasi dan pernah menjadi momok menakutkan bagi aparat birokrasi yang berkuasa saat itu,Gerakan mahasiswa saat ini menjadi mandul. Idealisme yang diagung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat. Mahasiswa tidak berdaya lagi dihadapan para birokrasi. Kenapa dan apa penyebabnya?

Salah satu penyebab yang saya yakini kenapa mahasiswa tidak berdaya lagi dihadapan birokrasi,karena mahasiswa saat ini tidak sejalan dan satu tujuan lagi dalam kehidupan di dunia kampus. Di dalam kampus Mahasiswa mengkotak-kotakkan diri dalam dua blok. Blok mahasiswa Idealis dengan Blok Mahasiswa Apatis. Dua blok inilah yang saya yakini selalu bersengketa dikampus manapun. ‘Mahasiswa aktivis’ menganggap ‘mahasiswa apatis’ sebagai mahasiswa yang tidak peka, pragmatis, oportunis, pengkhianat intelektual, atau belum menyadari hakikatnya sebagai mahasiswa. Sebaliknya ‘mahasiswa apatis’ menganggap ‘mahasiswa aktivis’ sebagi orang-orang yang tidak ada kerjaan, yang sok ikut campur, keras kepala, cari ketenaran dan mengidap penyakit sok pahlawan.

Hari ini jumlah mahasiswa yang cenderung bersikap apatis dan hedonis yang selalu mengikuti perkembangan zaman dengan segenap perubahan global, lebih banyak daripada mahasiswa yang mau berdiskusi dan senantiasa menyuarakan hak-hak dasar rakyat. Memang dilematika gerak dan langkah mahasiswa tersebut tak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada mahasiswa itu sendiri. Dari kedua Blok ini memang mahasiswa yang memilih dalam blok Apatis memang lebih banyak. Jika dipersentasekan di setiap kampus diseluruh Indonesia, mahasiswa yang menjadi bagian blok Apatis ada 80% sedangkan untuk mahasiswa yang memilih tetap mempertahankan dan mewariskan perjuangan para mahasiswa terdahulu yang pernah berdarah-darah ketika memperjuangkan dan merebut kemerdekaan, Malari, menjatuhkan diktator soeharto,dll hanya 20 %. Banyaknya mahasiswa yang memilih menjadi bagian Blok Apatis (rumah-kampus-rumah). Dalam kasus ini kita tidak bisa menghakimi kawan mahasiswa yang tidak peduli terhadap persoalan rumit bangsa ini..Mungkin karena tuntutan hidup yang tidak menganjurkan mahasiswa untuk berlama-lama di kampus. Kuliah hingga 5 tahun atau lebih saat ini, bukan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan. Biaya kuliah semakin mahal dari tahun ke tahunnya. Sehingga pilihannya cuma kuliah dan kuliah. Tidak untuk yang lainnya. Namun Pengkotak-kotakan dalam Mahasiswa seharusnya tidak perlu ada kotak yang memisahkan mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa, yang hendak berbuat banyak bagi orang lain disekitar, sebenarnya inilah pilihan yang sebenarnya.

Sejatinya mahasiswa merupakan sebuah kekuatan besar yang telah mencatatkan namanya pada panggung sejarah di negeri ini. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh mahasiswa terdahulu yang mampu membawa perubahan dalam bangsa ini. Mungkin sejarah gerakan mahasiswa ini layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini. Lantas kita yang seharusnya melanjutkan perjuangan mereka harus bagaimana??? apakah sejarah ini layak kita sia-siakan dengan keapatisan kita selama ini?? Menghilangkan pengkotakan dan menyatukan kembali seluruh elemen mahasiswa di bawah panji ”kedaulatan rakyat” ataukah malah sebaliknya? Tetap terkotak-kotak sebagai bagian dari tuntutan perkembangan zaman yang tidak berpihak bagi perkembangan bangsa ini agar lebih baik dan sehat. ?

Sumber : Kompasiana

02 September 2012

IPK TINGGI VS ORGANISASI MAHASISWA

Banyak orang menganggap menjadi seorang mahasiswa adalah sesuatu yang membanggakan., karena menjadi mahasiswa bagi sebagian masyarakat berpendapat bahwa mereka adalah orang yang cerdas, berpendiddikan, mempunyai pola pikir yang lebih maju, dan mapan berasal dari lingkungan berada. Namun disisi lain ada pula yang berpendapat mahasiswa yang kuliah di sebuah Perguruan Tinggi Negeri (PTN / Perguruan Tinggi Swasta (PTS) yang ternama baru bisa dikatakan mahasiswa yang mempunyai kemampuan lebih dan kecerdasannya dapat bersaing setelah lulus mendapat gelar nanti. Tapi bagi masyarakat yang berpikir anak mereka harus kuliah meskipun tidak di perguruan tinggi ternama, mereka berpikir sebuah perguruan tinggi ternama bukanlah jaminan bagi anak mereka untuk mendapatkan pekerjaan dengan mudah. Bagi mereka apabila anak mereka memang mempunyai potensi maka mereka akan sukses. Dilihat dari fenomena ini apakah seorang mahasiswa yang mempunyai IPK tinggi atau organisasi mahasiswa, mana yang lebih berguna?

Hal ini cukup beralasan mengingat bahwa ada mahasiswa yang lebih mementingkan nilai yang sempurna sehingga di akhir semester mereka mendapatkan IPK tinggi dan memuaskan dan konon itu dapat menguntungkan bagi mahasiswa itu sendiri ketika melamar pekerjaan. IPK kadang menjadi momok yamg menyeramkan ketika seorang mahasiswa yang mempunyai tingkat kecerdasan dan kemampuan yang pas-pasan., karena mereka harus mengulang salah satu mata kuliah yang dianggap gagal dalam mendapatkan nilai yang baik/sempurna, ini merupakan salah satu alasan kenapa mahasiswa tidak lulus tepat pada waktu kelulusan yang telah ditentukan.

Akan tetapi bagi mahasiswa yang berpikir bahwa IPK tinggi bukan jaminan sukses didunia kerja, melainkan seorang mahasiswa juga harus bisa berorganisasi sebagai bekal mereka kelak dalam menghadapi dunia kerja dan kehidupan bermasyarakat. Setidaknya mereka pernah mengenal bagaimana cara kerja didalam suatu organisai. Melalui organisasi mahasiswa, mereka dapat berlatih dalam dunia politik, seni, ekonomi dan sosial. mempunyai pengalaman membuat struktur organisasi serta pengalamn memimpin dan dipimpin.

Oraginisasi mahasiswa dibentuk bukan tanpa alasan, organisasi mahasiswa didirikan dalam rangka mengembangkan potensi diri kearah perluasan wawasan, peningkatan cendikiawan dan pengembangan potensi mahasiswa yang mempunyai bakat atau potensi tependam. Hal ini bisa dianggap sebagai pemanasan sebelum mereka terjun langsung ke dunia kerja yang nantinya juga menuntut mereka untuk masuk dalam sebuah organisasi.

Memang dalam hal ini organisasi mahasiswa dianggap tidak mempunyai peranan penting didalam perkuliahan di kelas, tapi disisi lain ini berguna dan melatih mental mereka untuk beropini, berdebat dengan orang lain serta mempunyai pengalaman dalam bergaya bicara yang baik dalam mengahadapi lawan bicara. Menurut kenyataan yang ada mahasiswa yang telah terjun dalam dunia organisasi pasti mental mereka lebih berani dan tidak canggung untuk kritis dan mengeluarkan pendapat maju didepan audience,sealin itu sedikit banyak kita berlatih untuk bertanggug jawab moral kepada orang lain, didalam perkuliahan juga sedikit banyak menuntut mahasiswa untuk kritis dalam pelajaran serta berpendapat mengeluarkan argumen-argumen yang ada. Kita tidak hanya pasif dalam mendapatkan ilmu pengetahuan tapi kita juga berlatih memecahkan masalah sendiri. Ini merupakan pengalaman yang berharga yang tidak ternilai harganya karena sedikit banyak kita telah terbiasa dan mempunyai mental yang kuat menghadapi kenyataan, tahu cara kerja organisasi hingga manifestasi penyiapan diri untuk menjadi agents of change setelah menyelesaikan studi dan kembali kemasyrakat.

Memang IPK tinggi merupakan syarat mutlak bagi seorang mahasiswa karena seorang mahasiswa bisa dikatakan berhasil dan menguasai bidangnya apabila mereka lulus dengan hasil yang memuaskan selama menyelesaikan studinya bertahun tahun. Namun apakah langsung berpuas diri dengan IPK yang tinggi jika tidak ada bekal pengalaman nyata berorganisasi serta pelatihan mental yang cukup dalam menghadapi kehidupan bermasyrakat. Bagaimanapun juga, kita yang melakukan tugas tersebut sebagai seorang mahasiswa. Apakah kita harus memilih mana yang lebih berguna kelak. Setidaknya kita bisa menyimpulkan sendiri apakah dengan bergabung di organisasi mahasiswa kita dapat melatih mental kita, dan apabila kita memilih IPK tinggi lebih penting sebagai bekal di dunia kerja. Itu semua kembali kepada diri kita dalam mengambil keputusan yang terbaik dalam kehidupan kita.


( oleh: Rosyida Hermawati, Mahasiswi FKIP-PBI UMK)

19 Agustus 2012

Selembar Kritik, dari Kami, MAHASISWA

Mahasiswa, selalu menghadirkan suasana dimana emosi mudah sekali bergejolak. Rupanya semangat muda, yang seperti yang dikatakan bang Rhoma, masa yang berapi-api, yang memotivasi para pemuda, para pejuang berjiwa muda, yakni para mahasiswa untuk menyeru kepada turunya keadian bagi negeri ini. dinamika perkampusan yang sarat akan demokrasi memberi ruang bagi para mahasiswa untuk melakukan hal semacam itu. Tidak salah memang, apalagi yang terjadi di fakultas yang sangat kental akan budaya “memberontak”, yang pembidangan studi nya memang mengarah pada aksi-asi demonstratif.

Berita duka tersiar dari tanah betawi, Jakarta. Kali ini menghadirkan cerita pilu bagi mahasiswa, dan juga barangkali keseluruhan yang merasakanya secara pribadi. Beberapa organisasi mahasiswa mungkin bisa mencermati. Khususnya para aktivis pergerakan mahasiswa yang tidak pernah surut melancarkan gelombang penyuaraan atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri ini.

Sondang hutalagung, begitulah namanya. Dia merupakan mahasiswa dari salah satu unversitas swasta di Jakarta. Tidak ada yang istimewa dan tidak terdapat hal-hal yang membuat seantero heboh kecuali tindakan konyolnya beberapa waktu lalu yang mengguncang surat kabar. Sebagaimana para aktivis kampus yang sering berupaya turun ke jalan untuk melancarkan aksi protes, khususnya ditujukan kepada pemerintah yang dinilai gagal dalam melaksanakan fungsi utamanya, sondang pun begitu.

Tidak ada yang berani tutup bicara dan tetap tinggal diam saat ada ketidakberesan situasi yang ada, khususnya pada ranah politik kekuasaan, dimana pemerintah selalu tersandung didalamnya. Aksi-aksi yang dilakukan, semisal mengadakan parade motor dengan mengenakan atribut organisasi mahasiswa tertentu sambil berorasi yang intinya merupakan kritik sosial-politik terhadap para legislatif-eksekutif,yang marak terjadi di setiap kampus manapun di tanah air, sudah tidak merupakan sesuatu yang baru. Masyarakat juga tidak heran lagi, banyak yang memaklumi, begitu pula pemerintah.

Para mahasiswa, berangkat dengan keyakinan tinggi, didasari atas keinginan mereka untuk mengambil sikap terhadap segala problematika yang ada dengan segala pengerahan daya mereka. Mahasiswa militan, sebutlah seperti itu, tentu tidak serta merta langsung terjun ke lapangan tanpa memiliki pandangan apa-apa tentang negeri ini, tetapi, yang menggerakkan mereka adalah motivasi yang terus memacu demi tercapainya kesetaraan yang ideal bagi negeri ini, yaitu keadilan. Ini bukanlah persoalan apakah mereka merupakan golongan “kiri”, kanan ataupun tengah, tetapi lihatlah perjuangan mereka dalam usahanya memperjuangkan yang terbaik untuk semangat perubahan, untuk rakyat Indonesia, semangat mereka ibarat derita jeritan lelah para petani yang semakin dihancurkan keberadaan mata pencaharianya oleh produk-produk impor. Perubahan, sejatinya adalah cita-cita luhur yang sedang diperjungkan oleh idealisme yang dimiliki oleh para mahasiswa,sebab itu yang membuat mereka berani untuk berjejal sesak turun ke jalanan, berdesak-dessakan dan berhadapan langsung dengan aparat kepolisian yang notabene bersenjata lengkap.

Tidak usah diambil pusing, toh pemerintah sepanjang dekade,selalu dapat meredam aksi unjuk rasa mahasiswa, dimana terdapat pengecualian ketika reformasi itu pecah. Mereka memiliki akses utama dalam kekuasaan, jadi apapun bisa diupayakan, terutama keuntungan tersebut mereka pergunakan sedemikian rupa dalam menangani pengganggu tempat nyaman mereka, yaitu para mahasiswa. Salah satunya, dengan memasang para aparat kepolisian di lini-lini tempat demonstrasi itu pecah. Cukup dengan menggerakan penegak hukum tersebut dan menyediakan: pentungan,tameng, dan senjata yang diformulasikan khusus untuk menyambut datangnya aksi dan meredam tekanan para demonstran. Gampangnya yang diperbuat pemerintah ketika aksi yang ditujukan kepadanya itu pech, maka santai sejenak di dalam gedung, lakukan apa yang benar-benar enak untuk dikerjakan, mengopi, surfing internet, atau santai sejenak menikmati surat kabar. Biarlah mereka yang menghabiskan waktu mereka di luar dengan mencaci-maki para pejabat yang sangat nyaman sekali menikmati hidup. Lepaskan mereka, maka nanti aksi mereka akan dengan sendirinya terhenti saking telah capeknya berorasi dengan menguras banyak energi dan menghasilkan suara itu menjadi serak, setelah itu, pasti tanpa dikomando mereka akan bubar,selesai pula tuntutan yang mereka lakukan seiring dengan berhentinya aksi unjuk rasa yang mereka lakukan.

Mudah sekali, laksana ikan yang sedang megap-megap tetapi tidak diindahkan sampai akhirnya mati khabisan nafas. Lantas, seperti itulah kurang lebih sedikit “tanggapan” yang berkenan direspon oleh pihak birokrasi terhadap demonstrasi keras para mahasiswa. Kekecewaan tersebut juga terjadi saat sondang dan kawan-kawanya yang lain, melakukan aksi unjukf rasa di depan Istana Negara, pada Rabu(7/12). Mereka barangkali berharap, protes mereka yang diarahkan langsung menuju pemimpin tertinggi NKRI, dapat selayaknya memperleh tanggapan dari pihak istana, dengan salah satu menteri nya yang langsung keluar menemui para pengunjuk rasa tersebut, atau kalau sempat, pak presiden sendiri yang muncul langsung dan mendengar keluhan mereka tentang situasi sebenarnya negeri ini. tetapi yang jadi pertanyaan, apakah mungkin? Jawaban logisnya tentu : tidak. Maka, dengan dengan penuh amarah sondang membiarkan sekujur tubuhnya dilalap api, dia membakar diri. Bahkan,mahasiswa, sebagai golngan yang dipandang terpelajar sekalipun, terdapat sesosok, yang rela menghilangkan nyawanya dengan cara membakar diri.

Memang,silahkan nilai sendiri, ini tindakan bodoh,konyol, tidak masuk akal, atau semacamnya. Yang jelas, tidak mungkin seseorang bertindak jauh diluar batas kewajaran jika tidak ada alasan logis yang menyertainya? Tidak ada yang bisa menentukan kesalahan siapaah sebetulnya ini. bisa dibilang, sondang telah berputus-asa, dan membakar dirinya sebagai bentuk frustasi terhadap apa yang sekarang benar-benar terjadi. Lalu, sampai kapan drama yang diperagakan, pemerintah memainkan lakon sebagai tokoh antagonis yang tidak pernah sekalipun bnar-benar menggubris tuntutan para mahasiswa,apakah pemerintah menunggu sampai ada aksi bakar diri yang lebih masif lagi? Kami terus berdiri, walaupun tidak semua dari kami mengambil bagian dalam setiap demonstrasi di lapangan, di sisi lain kami ,para mahasiswa, terus gencar melakukan gerakan-gerakan lewat media, kami semua tidak akan berhenti untuk terus berupaya, yang dimana pada hakikatnya, kami semua butuh keadilan!