Petualangan Alam Liar

Pengalaman akan keindahan ciptaan Tuhan.

Keindahan yang kurasakan

Pergilah untuk meraih impianmu.

Traditional itu KEREN

Kehilangan Budaya adalah kehancuran Bangsa.

Bukan Emosi

Orang yang paling kuat adalah yang mampu menahan amarah.

Perenungan

Perenungan akan kesalahan-kesalah duniawi.

Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Mahasiswa. Tampilkan semua postingan

29 April 2013

Peran dan Fungsi Ormawa Jurusan


Kampus merupakan sebua minatur dari kehidupan. Dikampuslah hadir orang-orang dari berbagai latar belakang yang berbeda,baik dari perbedaa suku, golongan, agama, budaya dan bahkan perbedaan kepentingan hadir, tumbuh dan saling berinteraksi. Bermacam karakter mahasiswa muncul di dunia kampus, ada yang mempunyai karakter mahasiswa yang hanya konsen dalam kademik, sehingga ia terkesan ekslusif dan tidak mudah bergaul. Ada mahasiswa yang karakter dan orientasinya hanya untuk “hedonisme” artinya ia datang ke kampus hanya untuk menunjukan kakayaan dan kemewahan yang dimilikinya. Karakter selanjutnya mahasiswa yang sibuk dengan urusan organisasi dan cenderung meninggalkan bangku perkuliahan, atau organisasi merupakan kompensasi dari kegagalan ia dalam akademik, mahasiswa seperti ini biasanya mempunyai idealisme tinggi namun tidak mempunyai sebuah kontribusi yang signifikan bagi kemajuan organisasi atau kampusnya sendiri. Dan karakter mahasiswa terakhir adalah bisa dikatakan sosok karakter mahasiswa yang luar biasa, ia  tidak hanya bergelar aktivis saja, namun lebih dari itu ia mempunyai kemampuanyang menonjol pula dalam akademiknya. Dan mahasiswa seperti ini lah yang biasanya mempunyai peran yang sangat strategis, baik di organisasinya sendiri atau di kelasnya dalam fungsinya sebagai mahasiswa.

Maka untuk menjadi seorang mahasiswa yang mempunyai prestasi baik dalam akademik dan organisasi, kita tidak hanya harus baik dalam akademik saja yang ilmu nya sudah kita dapatkan di bangku kuliah. Untuk menjadi seorang mahasiswa yang berprestasi dalam organisasi maka kita harus aktif pula dalam oraganisasi kemahasiswaan baik tingkat jurusan, ataupun universitas baik intra maupun ekstra kampus, yang dari sanalah kita bisa belajar berinteraksi dengan manusia yang mempunyai latar belakang yang berbeda-beda.  

Memaknai organisasi mahasiswa dalam perannya sebagai wadah dalam membina dan mengembangkan kompetensi mahasiswa. Dari ormawa inilah diharapkan akan lahir sosok-sosok calon pemimpin bansga di masa depan yang kemudian ia akan menentukan arah dan tujuan dari bangsa ini. Artinya ormawa yanga ada dikampus haruslah mempunyai peran dan fungsi mengembangkan mahasiswa nya.

Peran dan fungsi HMJ yaitu harus bisa mewadahi dan memberikan sarana bagi mahasiswa jurusan dalam rangka aktualisasi diri baik dalam skill organsasinya ataupu minat dan bakat yang menjadi potensi diri mahasiswa itu sendiri. Artinya keberadaan ormawa / HMJ harus bisa terasakan manfaatnya oleh mahasiswa. HMJ harus bisa bersinergi dnegan birokrat jurusan dalam rangka peningkatan kemampuan pengembangan profesi dalam hal ini konselor.

Inilah sejatinya peran ormawa jurusan dalam hal ini HMJ, yaitu program yang di buat harus meliputi pengembangan penalaran dan keilmuan, minat dan bakat, kesejateraan mahasiswa, bidang organisasi, iman dan taqwa, sosial dan program penunjang lainnya, yang kesemuanya itu adalah dalam rangka pengembangan potensi mahasiswa mesin itu sendiri. Namun tidaklah cukup ormawa itu berkarya hanya dalam ruang lingkup jurusan saja, ormawa tingkat jurusan pun harus peka dan responsif terhadap isu-isu kekinian yang terjadi baik daerah maupun nasional. Dalam hal ini tentu berdasarkan pada koordinasi dan komando dengan ormawa lain di kampus dan ormawa yang mempunyai otoritas kebijakan tertinggi di kampus dalam hal ini Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Kampus, sehingga diperoleh sinergisitas dengan elemen mahasiswa seluruh kampus. Hal ini lah yang menjadi bukti pengabdian dan keseriusan ormawa jurusan dalam membina dan mencerdaskan mahasiswa. Dan hal lain yang tidak kalah pentingnya bahwa ternyata ormawa jurusan lah yang menjadi peletak batu pertama pengetahuan dan kemampuan berorganisasi sehingga mahasiswa siap ketika ia harus hadir dan mengambil peranan lebih besar di tingkat universitas atau dalam lingkup yang lebih besar dibanding hanya sekedar tataran jurusan saja.

Maka akhir kata inilah yang harus disadari dan diyakini bersama oleh semua aktivis kemahasiswaan akan pentingnya keberadaan ormawa jurusan, karena hari ini ormawa jurusan sedikit demi sedikit telah kehilangan perannya, ormawa jurusan lebih hanya bersifat sebagai sebuah Event Organizer (EO) yang hanya membuat program/kegiatan tanpa mempunyai out put atau out come yang jelas. Atau bahkan ormawa hanya menjadi tempat “nongkrong” atau pelarian dari  mahasiswa yang gagal dalam hal akademik. Namun lebih dari itu ormawa jurusan adalah lembaga intra universiter non struktural yang bersinergis secara profesional dengan jurusan dalam rangka mengembangkan penalaran keilmuan serta memberikan pencerdasan kepada mahasiswa akan fungsi dan peran mahasiswa itu sendiri dalam rangka mengabdi untuk almamater dan Bangsa.

dari berbagai sumber

21 Januari 2013

Birokrasi Kampus dan Independensi Mahasiswa


Oleh : Dedy Hutajulu


Belakangan ini, saya sering mendengar keluhan dari kawan-kawan mahasiswa soal lambannya kinerja birokrasi. Mereka mengatakan ke saya bahwa kampus makin mencengkeram kebebasan mahasiswa. Memprihatinkan sekali!

Teman saya dengan wajah geram datang ke saya. Dengan meledak-ledak, ia bilang ke saya bahwa dosennya minta uang supaya mereka diberi nilai “A” padahal dosennya itu nyaris tidak mengajar selama satu semester, meski si dosen sudah teken kontrak kuliah. Katanya lagi, banyak juga dosennya  yang tidak terampil mengajar dan jarang sekali ditemukan dosen yang mampu mendesain perkuliahan dimana mahasiswanya terdorong untuk belajar konsisten. Tapi suka membentak-bentak. Tak sedikit pula dosen yang membiarkan mahasiswanya mencontek baik pengerjaan tugas maupun ketika ujian. Rasanya tak ada keseriusan dosen memberantas  penyakit mencontek ini. Begitulah.

Berkelitnya birokrasi memaksa para mahasiswa takluk pada situasi. Birokrasi menempatkan mahasiswa pada posisi serba salah. Dengan segala adikuasanya, birokrasi kukuh menjatuhkan mental mahasiswa sampai ke titik dasar.  Tampaknya, selalu ada celah yang bisa dimanfaatkan si dosen untuk memanfaatkan anak didiknya itu.

Aikh, tiga belas tahun reformasi telah bergulir, tapi mentalitas penguasa tak kunjung berubah menjadi lebih baik. Malah, lebih jahat.

Itu sebabnya kenapa lebih dari separuh mahasiswa masih menganggap bahwa birokrasi penyebab inefisiensi. Anggapan itu muncul sebagai kristalisasi kekecewaan atau kekesalan mahasiswa saat berurusan dengan birokrasi kampus. Hal-hal kecil yang seyogiyanya bisa dikerjakan dengan cepat, tetapi tak bisa diraih, lantaran sistem birokrasi yang menuntut ini dan itu, minta ini minta itu.

Supaya tidak termarjinalkan, tak jarang jalan berliku, berkelok-kelok dan menjemukan mesti dipatuhi. Sepertinya kecanggihan teknologi tak berbanding lurus dengan produktivitas para birokrat kampus. Bahkan, rasanya inisiatif mati suri di zona birokrasi. Terbukti, sistem departementalisme, mental feodal, kebiasaan menunda pekerjaan, sikap mengulur-ulur waktu, serta penggunaan banyak formulir yang serba legal-formal sangat banyak ditekankan.

Kejenuhan yang mencapai klimaksnya membuat mahasiswa mudah menyerah. Apalagi di era kini, saat luapan informasi dan akses teknologi begitu cepat mendorong mahasiswa memilih jalan pintas. Memang, kondisi ini tak bisa ditolerir.

Dalam keadaan seperti ini, gerakan mahasiswa kritis diharapkan menjadi dewa penyelamat bagi kampus. Sayangnya, kegerakan mahasiswa seperti hilang dari peredaran. Nyali mahasiswa mudah ciut saat berhadap-muka dengan birokrasi. Sejumlah ide kreatif serta mekanisme pergerakan mudah patah hanya lantaran tak kuasa menghadapi  “tatapan mata” penguasa kampus (birokrat). Kuantitas mahasiswa yang begitu besar tidak berbanding lurus dengan kekuatan dan daya juang untuk membawa perubahan.

Gerakan gerakan mahasiswa yang dulu kerap meramaikan kampus kini seperti  ditelan zaman. Isu perubahan yang biasa diusung mahasiswa kini tak lagi bisa diharap. Mahasiswa terbuai dan larut berfesbuk-ria dan ber-game online. Corong-corong penyalur aspirasi seperti UKM, Senat mahasiswa, dll telah kaku, beku, dan lapuk. Gerakan mahasiswa telah kehilangan kesadarannya.

Faktanya, ketakberdayaan mahasiswa menghadapi birokrasi seperti tak terbendung. Tak pelak, jika akhirnya mahasiswa cepat takluk kepada birokrasi yang selalu melemahkan dan melelahkan, karena kerap disalahgunakan oleh aparatur birokrasi yang merugikan masyarakat kampus.

Pertanyaannya, mengapa hal itu bisa terus terjadi? Mungkinkah masalah ini terpecahkan? Apa langkah kita? Sejumlah pertanyaan ini menjadi teka-teki bagi kampus.

Kondisi kampus yang memprihatinkan, memberi isyarat bahwa kajian birokrasi menjadi sangat penting bagi kampus yang sedang menjalani proses berkembang. Maka, kajian birokrasi semakin penting bagi setiap mereka yang sedang terlibat di kampus. Sebab, mahasiswa hanya akan diperalat bila tak memahami keadaan birokrasi kampus yang sesungguhya. Mereka akan menjadi alat ‘penguasa kampus’ untuk melanggengkan kekuasaannya. Jadi, amat perlu memahami birokrasi sebaik dan sesegera mungkin
.
Menyoal Independensi Mahasiswa

            Mencermati rasa takut mahasiswa yang berlebihan itu, bahkan merasa seperti terbungkam dengan rasa segan memenuhi ubun-ubun sehingga tak mampu berkata apa-apa ketika berhadapan muka sama muka dengan birokrat. Ini membuktikan bahwa mahasiswa masih dipandang sebelah mata. Keadaan ini terjadi karena mahasiswa tidak menyadari bahwa mereka kaum independen.

Independensi berarti bebas. Bisa dikatakan bahwa independensi adalah sikap dimana mahasiswa bebas dari cengkeraman birokrat. Dalam arti, mahasiswa punya kebebasan berpikir dan berkreasi. Ide atau gagasan mahasiswa tidak boleh ditundukkan oleh gelar atau jabatan para birokrat. Tetapi sebaliknya, kehadiran para birokrat semestinya menjadi pendorong sekaligus pemberi semangat bagi yang muda untuk berkarya dan mengembangkan sayap.

            Mahasiswa harus bisa melihat dirinya jauh lebih dalam sampai ia menyadari bahwa dirinya adalah  kaum intelek sekaligus agen perubahan. Dengan bermodalkan kecerdasan, kreativitas, serta militansi, posisi mahasiswa begitu kencang membawa angin perubahan. Sayangnya, ketiga poin itu runtuh seketika. Kekuatan itu justru terkunci, bahkan rontok digusur rasa takut ketika independensi mahasiswa dikesampingkan.

Indepensi bukan sekedar bebas berekspresi fisik. Tetapi, pada tataran pikiran kebebasan itu patut dinikmati. Kebebasan memeliharakan pikiran dengan membiasakannya seliar mungkin  melanglang buana mencari gagasan harus dipelihara. Dan hal itu perlu disadari oleh semua orang, termasuk birokrasi. Karena tanpa pengakuan atas indepensi mahasiswa, harapan perubahan sulit diwujudkan. Sebab mahasiswa adalah insan kreatif yang butuh berekspresi.

            Lantas, bagaimana menganulir cengkraman kampus itu? Jawabanya: Kita perlu sadar. Tanpa kesadaran diri, gerak perubahan yang dikerjakan hanya asal-asalan. Dan kesadaran itu perlu dibangun secara kolektif. Karena tanpa kesadaran kolektif, kekuatan pergerakan tidak memiliki greget. Ujung-ujungnya bisa  kandas di tengah jalan.

Tindakan Strategis dan Dinamika Kampus

Kita perlu berbenah diri. Tindakan strategis perlu dirancang sebagai modal pergerakan. Maka penguatan diri adalah keniscayaan. Penguatan bisa dimulai dengan jalan membangun kelompok mahasiswa yang strategis. Kelompok mahasiswa yang strategis dikukuh sikap militansi di satu sisi dan kemampuan mengorganisir  gerakan di sisi lain. Kelompok strategis ini terbentuk dalam suatu aliansi yang diikat oleh kepentingan-kepentingan bersama, yaitu mewujudkan birokrasi kampus yang sehat, yang mengedepankan nasib mahasiswa.

Mahasiswa harus memandang bahwa birokrasi adalah alat jitu untuk memperluas praktek demokrasi. Sebab birokrasi adalah media pengembang demokrasi. Ia bisa berfungsi sebagai jembatan bagi pelaksanaan setiap kebijakan-kebijakan administratif dari penguasa dengan aspirasi rakyat. Asal kita (mahasiswa) mampu mengontrol jalannya demokrasi kampus secara progres. Tergantung sifat birokrasi yang dibangun itu, apakah mengedepankan sifat keterbukaan atau serba tertutup? Keadaan ini perlu dicermati.

Maka dari itu, perilaku birokrasi yang menyimpang perlu dikritik demi arah perbaikan. Titik berat pemberian kritikan harus ditakar sesuai kadar penyimpangan itu sendiri. Kritik sifatnya membangun. Dan tujuannya tidak boleh sampai melenceng supaya, kritikan itu mendapat tempat yang tepat di hati birokrasi.

Dengan kontrol yang tepat pada birokrasi, kita  sebenarnya sedang mengupayakan agar ia berada pada posisi yang tepat sebagai pelayan masyarakat kampus. Bekerja sesuai fungsi dan tidak dibawah kendali dominan birokrat, tidak juga kurang mendapat perhatian dari mahasiswa. Model birokrasi adaptif  perlu dibangun dengan sungguh-sungguh.

Perlu juga dicermati, jika kontrol terhadap kampus rendah maka korupsi semakin subur, bangunan pendidikan rapuh, dan nepotisme merajalela. Korupsi dan nepotisme biasanya terdapat pada setiap aktivitas birokrasi dan kebanyakan terjadi di sistem yang lemah dari perhatian orang.

Oleh karena itu, Mari, sebagai mahasiswa sadari bahwa kita punya independensi. Yang perlu kita cermati, independensi yang kita miliki perlu diimbangi dengan kemampuan yang memadai, kualitas yang cemerlang dan militansi yang tinggi supaya kita tidak dipandang sebelah mata. Yang pada akhirnya, masyarakat kampus bisa merasakan dampak kehadiran kita di kampus dan di masyarakat.

18 Desember 2012

MAHASISWAKU SAYANG, MAHASISWAKU MALANG

Apa yang menjadi tugas utama seorang mahasiswa? Pertanyaan itu dilontarkan oleh seorang kakek tua asal kampung dengan pakaian lusuh, entahlah dia orang yang punya rumah tetap, atau hanya seorang gelandangan yang tak pernah dipedulikan ole siapapun.

Dengan lagak angkuh sok keturunan aristrokat, gaya petentang petenteng menaikan kerah baju dengan tidak sopan, berdehem-dehem sebentar seperti seorang prklamator hendak memulai orasi, lagaknya saja seperti orator ulung. Baju tak dimasukkan, ada yang sobek sana-sini entah tersangkut dimana. Celana jeans sobek di bagian dengkulnya yang menghitam, kasihan sekali tak punya uang untuk beli yang baru mungkin. Rambutnya kusut, tak keramas berapa tahun entahlah, seperti orang perempuan saja sebahu, lebih baik tersisir rapi, kalau model satu ini awut-awutan.

“Tentu saja bela rakyat seperti aki ini” jawabnya sok mantap, dan meyakinkan, kakek tadi hanya melengos, menatap tak percaya, kemudian sedikit menyindir, beliau bertanya apakah anak muda di dpannya itu betul-betul mahasiswa atau bukan. Lha wong punya sebutan maha yang artinya besar begini kok, nggak kaya orang berpendidikan saja. Menghisap rokok sembarangan klepas klepus sesekali terbatuk.

“Kamu ini mahasiswa bukan?”
“Ya mahasiswa lah ki, ini bukti ktp saya di kampus”
“Lha terus kamu bilang membela aki ini apa? Kapan kamu pernah bela aki, kapan?” sampai terbatuk-batuk aki memprotes. Tubuhnya ikut terguncang-guncang. Dalam hatinya menggerutu kepada pemuda di depannya itu. Dia anggap kalau anak sekarang itu sama saja dengan para petinggi negara ini yang hanya bisa ngomong tanpa menyelesaikan masalah.

“Aduh, aki ini bagaimana sih, yang terus-terusan mengawasi pemerintah itu siapa, ki? Ya kita-kita ini?” tiba-tiba dari arah seberang jalan, seorang pemuda lainnya memanggil pemuda di depan aki sambil mengibar-kibarkan spanduk bekas penutup warung mungkin. Anak itu kembali lagi bicara.

“Kalau aki mau bukti, ni lihat saja” katanya sambil berlari.
Aki mencak-mencak juga, sudah tua begini kok diajak ngomongin politik, setengah mengusir dia menyuruh anak itu pergi, dongkol juga dia bahkan sempat menyumpah-nyumpah segala, bukti gudhulmu itu, bisanya cuman mengawasi thok, memang situ mandor apa? Lha mbok ya kerja yang lebih intelek sedikit, daripada hanya sebagai pengawas.

Kakek terus menatap ke arah jalanan itu, ratusan anak muda ter blok menjadi dua, ada yang pro dengan keputusan pemerintah, namun ada juga yang kontra. Suara mereka berbaur bercampur jadi satu tenggelam bersama tuntutan mereka yang entah darimana sumbernya. Mereka membela orang yang entah salah atau tidak, toh kalau pun orang yang di bela tidak bersalah apa untungnya bagi mereka? Apakah para petinggi itu juga akan peduli dengan rakyat seperti kita-kita ini? Dan kenapa juga ada yang menghujat toh belum tentu salah, memangnya para mahasiswa itu tahu sebab musababnya hanya terpancing koar-koar provokator yang tidak beranggung jawab.

“Orang bisanya kok ikut-ikutan, mau-maunya mereka turun ke jalanan yang panas. Memangnya ada yang bayar? Kalau pun di bayar paling dibayar dengan nasi kucing seharga seribu lima ratus rupiah. Orang kok bisanya ngritik, kaya dia itu bisa saja menggantikan tugas orang yag dikritik, lha mbok yo’o jadi orang itu intropeksi sebelum menginterupsi orang lain...!” cerocosnya pada seorang pemulung yang tengah istirahat. Pemulung tadi hanya mengangguk, takut dianggap durhaka kalau menyangkal. Lagian takut juga dia kalau sampai dikutuk batu seperti Malin Kundang di Sumatera Barat.

Belum lagi sempat melanjutkan omelan, dari arah seberang sana terdengar teriakan provokator-provokator kacangan yang saling ejek. Ah itu sudah biasa di Indonesia, gampang sekali terpecah belah. Ada yang jadi kompor bodhol saja, semuanya bisa meledak, lebih hebat dari ledakan tabung elpij ukuran 3 kilogram.
Kakek tua itu hanya mengelus dada. Belum sampai elusan dadanya sampai ke bawah, para mahasiswa yang entahlah kerasukan setan dari mana asalnya itu pontang-panting lari ke sana kemari saling lempar batu sembunyi tangan, saling pukul. Astaghfirullah, sekali lagi sang kakek mengurut dadanya.

Belum hilang keterkejutan kakek tadi, tiba-tiba di jalan, depan dia duduk-duduk sekarang ini mahasiswa-mahasiswa tersebut membakar macam-macam poster, terlibat bentrok dengan aparat, merusak fasilitas publik disekitarnya ketika menolak dibubarkan, beberapa mobil di bakar, kantor pengadilan dilempari menggunakan batu-batu, sebagian lagi menggunakan bom molotov untuk lebih menjadikan suasana. Wah...kakek ini hanya dapat memaki-maki dari tempat dia beristirahat, kemudian teriaknya lantang.

“Woe anak muda edan, tidak eling lagi. Itu katamu yang disebut membela kami? Cih...” dia mulai meludah umpatan-umpatannya sudah tak terkontrol lagi, dia sudah kepalang jengkel dengan para mahasiswa yang seumuran dengan cucunya tersebut. Pemulung yang tadi di dekatnya hanya mampu geleng-geleng kepala “Kalian benar-benar tidak menghargai pendahulu kalian, Bapak seperti ini, itu veteran, jangan main-main”

Pantas saja dia marah. Bagaimana dia tak marah, melihat dengan mata kepala sendiri kalau generasi penerusnya adalah generasi ondel-ondel yang tak punya kemampuan babar pisan. Bagaimana dia tak jengkel, mendengar langsung umpatan-umpatan mereka yang justru memperlihatkan kebodohan dan ketololan mereka? Pakai aara anarkis, merusak fasilitas umum. Apa itu tugas utama seorang mahasiswa? Kemana saja pelajaran yang mereka peroleh dari bangku kuliah, sama saja jadi bedebah.

Benar-benar merasa ngenes, dulu dia dan kawan-kawan berjuang mati-matian hanya untuk mempertahankan kemerdekaan, mempertaruhkan segalanya, harta, nyawa. Tapi apa yang di dapat sekarang, hanya kotoran yang di lempar ke muka sendiri. Anak turunnya justru hanya mampu menjajah bangsa mereka sendiri, dengan dalih demokrasi, revolusi. Apa itu? Bukan begitu demokrasi dan revolusi, itu cermin orang yang pernah makan bangku sekolah.

Keringatnya mengucur deras, dari tadi mengacung-asungkan tongkat yang menyangga bentuk tubuh tambunnya. Dia berpikir, tentu akan bangga sekali kalau sampai mampu melihat generasi muda Indonesia membangun negara ini menjadi negara yang lebih maju dan bermartabat, membuat Indonesia setidaknya dikagumi negara-negara sekitar. Dan betapa bangganya juga kalau generasi muda ini mampu berpikir menggunakan otak dan mempertimbangkannya menggunakan hati, daripada mereka-mereka yang berpikir menggunakan dengkul dan mempertimbangkan menggunakan otot. Apaan itu, ini bukan jaman perang bung.

Kalau memang mereka anggap negara ini sudah bobrok, ya pikir bagaimana solusinya agar negara ini kembali menjadi negara yang lurus, bukan malah menambah bobrok dan menyalahkan pemerintah. Apa-apa kok menyalahkan pemerintah, padahal kadang warganya sendiri yang susah diatur. Oh cucuku tersayang, cucu-cucuku yang malang begitu batinnya dalam hati.

By: OKTA ADETYA alumni XII Bahasa SMA N 10 Purworejo

14 Desember 2012

Kos-Kosan Mahasiswa


Sering terdengar di telinga kita kamar sewa atau biasa di sebut kos-kosan yang berada banyak di dekat kampus dan pabrik-pabrik besar yang berada di tengah kota yang merupakan tempat bernaung, beristirahat dan tempat barang kita dari kampung di simpan. Namun melihat realitas yang ada  Mahasiswalah yang menjadi sebagian besar penghuni di tempat yang dinamakan kos-kosan tersebut, dengan alasan tempat asal atau kampung halaman jauh dari Kampus demi mengirit pengeluaran anggaran tiap Tahun hingga pada bulanan. Sebagai salah satu faktor pendukung untuk belajar dengan tenang tanpa ada ganguan dari sanak keluarga seorang mahasiswa yang jauh dari kampung halaman maka di butuhkan tempat sementara, oleh karenanya mereka meyewa kamar (kos). Dapat dikatakan bahwa seorang mahasiswa mempunyai kesehariaan atau pekerjaan yaitu belajar tanpa mengenal waktu, baik di ruang kelas maupun ketika tugas-tugas di berikan oleh para pengajar yang membawakan rata-rata 8-9 mata kuliah yang notabenenya memliki minimal 23-24 SKS tiap semesternya (6 bulan). Melihat hal tersebut dapat dikatakan semester 1 hingga pada semester 5 mahasiswa di sibukkan dengan memburu angka-angka demi Ideks prestasi yang di tanamkan oleh kampus yang menyatakan bahwa angka 1,2,3 dan seterusnya merupakan tingkat kecerdasan seorang mahasiswa mampu bersaing dalam menjalani kehidupan di dunia seperti perkataan Dawin menyatakan “ yang kuatlah yang mampu bertahan”.

Kampus yang dapat di katakan sebagai pencetak manusia-manusia yang tercerahkan dan bijaksana karna ilmunya hampir di katakan telah bergeser dengan makna sebenarnya yang terbahasakan didalam Tri Dharma Perguruan Tinggi, merupakan azas pedidikan di Indonesia. Berkaca dari hal tersebut hampir di katakan sebagian besar mahasiswa akan menghabiskan waktunya di Kos mereka atau bahkan di warnet yang kemudian melupakan tugas dan tanggung jawab mereka sebagai seorang mahasiswa dimana salah satunya bentuk pengabdian kepada masyarakat bersifat terus-menerus tanpa meski di jadwalkan seperti dicanangkan oleh pihak kampus; KKN dan KKLP yang katanya mengabdi kepada masyarakat pada kenyataan menjadi tempat liburan massal bagi mahasiswa, hak tersebut tak lepas dari akibat Akademik yang begitu Full time, oleh karenanya mahasiswa oga-ogahan saja terhadap kegitan yang kemudian hadir dikampus  yang menyebabkan terhapusnya pemikiran kritis dan intelektual progresif. Namun tak pelak juga ada sebagian mahasiswa yang sadar akan fenomena tersebut yang akhirnya memilih untuk sadar akan realitasnya sebagai seorang mahasiswa yang kemudian hadir di lingkungannya untuk berbuat hal-hal yang dianggap berbeda dari mahasiswa Akademik, yang kemudiaan mengukur Indeks Prestasinya bukan pada tataran akademik melainkan pada tataran ketidak puasan akan pengetahuan yang tidak berpatokan angka-angka tetapi peran di lingkungan, baik terhadap internal sendiri ataupun juga eksternal. Mahasiswa seperti inilah yang kemudian menjadikan Kos mereka hanya sebagai tempat menumpukkan barang, Mandi dan ganti pakaian Selama itu belum mengganggu dirinya untuk di pakai. Bagi mereka pula terkadang sebuah kos adalah tempat public (bersama) Belajar (kajian da dialog) yang merupakan tempat merumuskan perubahan yang dicita-citakan dapat dikatakan setara dengan sekertariat pada umumnya, Namun  bagi mereka justru di luarlah sebenar-benarnya tempat kos ituberada. Dalam hal inilah Mereka di sebut di kalangan para Mahasiswa sebagai orang yang aktif dalam pencariaannya menemukan kebenaran, sampai pada ikut serta mewakili aspirasi bukan hanya kepentingannya semata melainkan kepentingan orang banyak tanpa melihat besar kecil hal tersebut, seperti ungkapan Imam Ali As “ Jangan Melihat siapa yang mengatakan tapi dengar apa yang dikatakannya.

Peletakan mahasiswa yang aktif ini di sebut sebagai Aktivis kampus. Seorang aktivis kampus merupakan pelekatan kata yang memliki makna yang sering menggugat, bersifat skeptis (kritis), intelektual, terscerahkan dan masih banyak lagi kata yang melekat sebagai inspirasi dari perbuatan melawan kemapanan kampus. Mahasiswa yang satu tak menjadi arogansi mendalam bagi para birokrasi kampus,ia di jadikan ssebgai manusia yang kasar dan berbudi pekrti dalam paham birokrasi kampus. Namun hal tersebut tidaklah menyurutkan tekatnya untuk berbuat demi seperti kutipan ini : Seorang aktivis ibarat sebuah Martir yang membuka jalan. Tapi jalan itu bukan untuknnNya”(sabda dalam persemayaman). .

Retorika Aktivis Kampus

Banyak persepsi yang berkembang bahwa seorang aktivis kampus atau seorang organisator merupakan mahasiswa yang terlena dan tidak jelas tujuan untuk menata masa depan, karena kebanyakan para aktivis kampus cenderung melalaikan perkuliahan hingga telat tamat, jarang masuk kuliah, sering kali mendapatkan nilai C atau D bahkan IPK yang bobrok, ya itulah fenomena yang marak terjadi.

Namun tidak semua begitu dan dibalik itu semua, tahukah kita dan pernahkah kita membuka pikiran? bahwa seorang aktivis kampus yang benar-benar memegang teguh idealis merupakan sosok dipandang kecil tapi berfikiran dan mencoba untuk menjadi agent of change dengan bentuk pengorbanan, pengabdiannya dan kepeduliannya terhadap kondisi yang terjadi pada tataran mahasiswa, birokrasi kampus, masyarakat, kaum pekerja dan korban kekuasaan elit-elit politik.

Demonstrasi, aksi solidaritas sosial, forum diskusi, seminar dan kajian ilmiah dan masih banyak lagi lainnya adalh merupakan wujud dari pemikiran yang terealisasi dari mereka untuk menujukan kepada dunia bahwa mereka PEDULI.
Mereka berusaha bagaimana membagi waktu antara kuliah sebagimana tugasnya sebagai mahasiswa akademis, antara orang tua, sang kekasih, sahabat dan rutinitas ganda, seandainya mereka mau mereka bisa saja seperti kebanyakan mahasiswa lain, yaitu menyelesaikan kuliah cepat dengan berbagai cara, kemudian mendapatkan pekerjaan yang layak, menikah, mempunyai anak, bahagia dengan keluarganya, memperkaya diri, naik haji hingga kemudian membusuk mati, yah sebuah kehidupan yang begitu terpola sehingga membentuk pribadi-pribadi kerdil, individualis, apatis dan sangat egois, jika kita seorang muslim tentu kita mengenal sosok nabi Muhammad SAW, beliau merupakan cerminan bagaimana berjuang untuk kemaslahatan hidup orang banyak, membela kebenaran dan menjadi teladan umat, bukan hanya Nabi besar kita begitu banyak rentetan aktivis yang berjuang demi sebuah kebenaran dan keadilan, SOEKARNO, BUNG HATTA, MUNIR, SOE HOK GIE, PARA AKTIVIS 98 dan masih banyak lagi, bayangkan jika sosok mereka tidak pernah hadir dalam sejarah negara ini? akankah agama ISLAM tetap ada? atau MERAH PUTIH tetap berkibar? Akankah kita bisa hidup berdemokrasi tanpa adanya OTORITAS yang membatasi? dan Adakah sosok yang menginspirasi PEMUDA dan MAHASISWA?

Aktivis kampus tidak mendapatkan Gaji, mereka tidak mendapatkan dan mengharapkan perhatian dan penghargaan dari hallayak namun dengan segala keterbatasan ia tetap berjuang dan berkorban walaupun begitu banyak cemoh'an, Teruslah berjuang para aktivis kampus, setidaknya tuhan tahu apa yang engkau perjuangkan dan apa yang cita-citakan. tuhan mencitai hambanya yang menyatakan bahwa yang benar-benar adanya dan yang batil, batil adanya.
HIDUPLAH INDONESIA RAYA...!!!!

NB : Aktivis kampus dalam catatan ini merupakan aktivis yang memegang teguh idealis bukan aktivis kacangan yang memanfaatkan jabatan dan beretorika kritik demi menjilat sebuah pertukaran keuntungan dan menjadi anjing-anjing politisi dan elit-elit tertentu.

Urgensi Gerakan Mahasiswa Dalam Perubahan Bangsa


MAHASISWA adalah salah satu elemen yang vital dan mempunyai peran yang penting dalam mengawal dan melakukan sebuah perubahan di setiap negara, setidaknya dalam pemerintahan birokrasi kampus. 

Peran dan tanggung jawab mahasiswa dalam melakukan kerja-kerja gerakan dalam sebuah perubahan tersebut menjadi suatu hal yang lumrah dalam garis sejarah sebuah bangsa. Apalagi dalam sejarah perubahan bangsa kita “Indonesia”. Mahasiswa merupakan bagian dari struktur sosial yang tidak bisa dipisahkan dari masyarakat, maka tidak heran apabila orang menyebutnya sebagai agent of change and social control.

Gelar yang dinobatkan oleh masyarakat kepada mahasiswa bukan tanpa alasan dan terjadi dengan sendirinya. Ada sejarah besar yang pernah ditorehkan oleh kaum mahasiswa baik pra-kemerdekaan maupun pascakemerdekaan.

Berkaca pada sejarah, banyak sekali rentetan perjuangan yang dilakukan oleh mahasiswa dalam merespons dan mengawal pemerintah demi menegakkan keadilan bagi seluruh masyarakat. Mulai dari Gerakan Boedi Oetomo tahun 1908, Indonesche Vereeninging tahun 1922, Gerakan mahasiswa Orde Lama-Orde Baru dan kemudian taring organisasi mahasiswa semakin memuncak pada saat indonesia menuju reformasi 1998. Saat itu, seluruh organisasi gerakan  mahasiswa bersatu menginginkan dihapusnya rezim Suharto dan reformasi struktural dalam mengatasi krisis ekonomi global. 

Dalam konteks ini, amanat sosial yang diemban mahasiswa  begitu berat dan penuh dengan tantangan. Di satu sisi, mahasiswa dituntut untuk produktif dalam hal pengetahuan kampus (akademis). Di sisi lain, mahasiswa dituntut peka dalam persoalan sosial kemasyarakatan. Sehingga kehidupan mahasiswa harus seirama antara kebutuhan pribadi dan sosial.

Akan tetapi fenomena hari ini kehidupan mahasiswa cenderung berbalik arah dari kehidupan mahasiswa silam. Semangat organisasi yang dahulu menjadi senjata utama dalam mengawal pemerintah kini mulai luntur. Menurut pengamatan penulis, setidaknya ada beberapa hal yang mempengaruhi hal itu.

Pertama, pola pikir mahasiswa yang cenderung hedonis dan uforia. Inilah kemudian yang disebut dengan kehidupan modern. Mahasiswa cenderung apatis terhadap kehidupan para aktivis (panggilan mahasiswa yang berorganisasi) karena terkesan urakan dan menjadi sampah kampus. Sebab idealitas yang dibangun kaum aktivis adalah kematangan dalam pengetahuan dibandingkan mengutamakan penampilan. Mahasiswa saat ini lebih enjoy menjadi mahasiswa trendy, yang mengedepankan penampilan ketimbang kekuatan intelektualitas, sehingga tidak heran jika kampus hanya dijadikan sebagai ajang fashion (gaya).

Kedua, sistem pendidkan yang ada di kampus semakin mempersempit ruang gerak mahasiswa untuk beraktivitas di luar kampus. Seperti contoh adanya ketentuan mahasiswa untuk mengisi absensi kehadiran dalam satu semester 75 persen. Jangankan berfikir untuk berorganisasi, untuk mencapai target 75 persen saja bagi mahasiswa adalah hal sulit. Dampaknya, mahasiswa lebih memilih menjadi kaum akademisi yang aktif kuliah ketimbang berorganisasi. Mereka berasumsi, berorganisasi akan menghambat perkuliahan. 

Padahal jelas apa yang dinyatakan oleh Paulo Freire selaku tokoh pendidikan bahwa pendidikan merupakan ruang proses penyadaran bagi manusia, bukan untuk memasung kreativitas dan potensi mahasiswa dengan sekian peraturan yang ada dalam kampus.

Adalah kenyataan sejarah bahwa sekian hal perubahan-perubahan yang terjadi dalam negeri ini kita bisa melihat bahwa peran serta mahasiswa didalamnya sangat besar dan selalu menjadi garda terdepan dalam perubahan-perubahan tersebut. 

Tanggung jawab dan rasa keterpanggilan mahasiswa di setiap angkatannya mampu mewarnai deru sejarah negeri ini. Dan ruang yang di jadikan proses tak lain adalah organisasi.

Peristiwa 1908, yang dijadikan sebagai momentum awal kebangkitan nasional Indonesia merupakan periode nasional yang banyak diisi oleh para mahasiswa bangsa ini. Sumpah pemuda 1928 yang melahirkan kebulatan tekad bangsa ini pun tidak terlepas dari peran mahasiswa dengan komunitas Jong-jongnya pada saat itu. Belum lagi peristiwa-peristiwa penting lainnya yang terjadi prakemerdekaan yang kesemuanya tidak mungkin terlepas dri adanya peran aktif mahasiswa-mahasiswa Indonesia pada saat itu. 

Soetomo, Soekarno, Hatta, M. Yamin, mereka semua adalah para founding fathers kita yang berangkat dari semenjak mahasiswa aktif di organisasi mahasiswa hingga menjadi pelopor perjuangan kemerdekaan bagi bangsa ini. Semoga semangat organisasi kembali tumbuh di kampus dan dapat menberikan kontribusi berarti terhadap perubahan bangsa yang lebih baik.

Sumber: Romel Masykuri (Mahasiswa Fakultas Syari’ah dan Hukum UIN Sunan Kalijaga)

12 Desember 2012

Langit Mendung di Atas Kampus



INI jeritan hati seorang guru. Mungkin sekali juga jeritan hati seorang dosen dan orang tua. Mari kita hitung. Berapa lama mendidik seorang anak sejak dari taman kanak-kanak (TK) sampai berhasil menjadi sarjana.

Lalu masih harus berjuang lagi jika ingin menempuh strata S-2, kemudian naik lagi S-3. Itu semua mungkin memerlukan waktu minimal 20 tahun. Untuk berhasil meraih gelar profesor, seorang dosen bahkan perlu perjuangan lanjutan lagi. Bayangkan, betapa banyak biaya dan pengorbanan yang mesti dikeluarkan baik tenaga, pikiran, uang, maupun emosi.

Membayangkan itu semua maka sangat wajar kalau acara wisuda sarjana merupakan hari kegembiraan dan pelepasan dari semua lelah serta penantian panjang. Orang tua berbondong-bondong ke kampus untuk menyaksikan hari bersejarah itu. Para wisudawan mengenakan pakaian toga simbol kelahiran kembali sebagai seorang yang telah dewasa secara intelektual. Mereka berfoto ria untuk mengabadikan momen yang amat mahal dan langka dalam hidup seseorang.

Demikianlah, dengan bekal kesarjanaan, seseorang lalu menapaki jalan hidup serta karier lebih lanjut. Di antara mereka ada yang berkarier sebagai akademisi di lingkungan kampus dan ada pula yang berkarya di jajaran birokrasi pemerintahan ataupun di sektor swasta. Saya sebagai seorang guru, dosen, dan sementara ini dipercayai sebagai pimpinan universitas akhir-akhir ini dibuat sedih dan merenung membaca berita berbagai skandal korupsi yang dilakukan oleh mereka yang latar belakang pendidikannya sarjana, bahkan ada yang dikenal sebagai akademisi dan profesor.

Sungguh situasi ini membuat pilu. Sebagai seorang guru dan dosen pasti sedih, bertanya-tanya, apa yang salah dengan dunia pendidikan kita? Secara teoritis-normatif seorang sarjana pasti tahu bahwa korupsi itu jahat, bagaikan virus yang akan merusak jaringan tubuh birokrasi yang berujung pada kelumpuhan. Birokrasibukannya bekerjaproduktif memajukan bangsa dan melayani rakyat, melainkan hanya menghabiskan APBN untuk membayar gaji bulanan dan biaya proyek yang jadi kenduri para koruptor.

Kami bertanya-tanya. Apakah pendidikan yang salah, atau mental pejabat kita yang sangat rapuh, ataukah sistem dan kultur birokrasi kita yang ganas dan akan menggilas siapa pun yang bergabung? Saya tidak tahu persis apa jawabannya. Namun, yang pasti hari-hari ini serasa melihat mendung hitam menutupi dunia kampus.

Kita ingin suasana di luar kampus memberikan inspirasi dan motivasi kepada mahasiswa bahwa jalan terbaik untuk meraih sukses adalah belajar keras, menjaga integritas, dan mengembangkan keahlian serta keterampilan komunikasi. Tetapi sangat memilukan, yang selalu saja menjadi sumber pemberitaan adalah drama politik, berita korupsi, mafia hukum, dan dunia selebritis. Saya selalu membayangkan, setiap tahun berapa puluh ribu sarjana diwisuda di seluruh Indonesia.

Tetapi bersamaan dengan itu selalu muncul kepedihan dan pesimisme mengingat sarjana yang kualitasnya bagus dan mudah memperoleh lapangan kerja yang ideal pasti jumlahnya minoritas. Lebih menyedihkan lagi kalau ternyata lapangan kerja yang dimasuki kulturnya busuk. Bertahun-tahun belajar untuk meraih sarjana agar memperoleh lapangan kerja, tapi sampai di tempat kerja, godaannya terlalu berat.

Teori dan etika yang dipelajari di sekolah dijungkirbalikkan. Yang jujur malah terpinggirkan. Yang edan yang kebagian. Begitu pun bagi aktivis mahasiswa yang semasa di kampus menggebu- gebu antikorupsi, ketika bergabung ke parpol atau birokrasi secara drastis berubah perilaku dan gaya hidupnya. Mereka berbuat persis seperti yang mereka kecam ketika sebagai aktivis mahasiswa.

Ada juga aktivis mahasiswa yang sudah pintar bermain “proyek”dan keterampilan itu dilanjutkan setelah jadi sarjana dan aktif di parpol atau birokrasi pemerintahan. Yang paling membuat kesal tentu saja jika aparat penegak hukum, khususnya polisi, jaksa, dan hakim, dengan seenaknya mempermainkan pasal undang-undang (UU) dan hukum sebagai medium untuk mengejar uang haram.

Langit hitam menutupi kampus. Serasa sia-sia menyelenggarakan pendidikan dengan biaya yang mahal kalau instansi lain malah merusak jerih payah guru dan dosen. Atau memang ada yang salah dalam sistem dan kultur pendidikan kita sehingga tidak melahirkan pribadi yang tangguh dengan keterampilan tinggi.

Begitu sulit panitia seleksi mencari komisioner yang andal, sesulit mencari sebelas pemain sepak bola kelas dunia dari dua ratus juta lebih penduduk Nusantara. Kita cukup puas dan bahagia dapat menikmati piala dunia. Hanya sampai di situ saja. Kita mengagumi sebuah negara demokratis, bebas korupsi, dan rakyatnya makmur. Sementara ini cukup hanya kagum saja dulu. (*)

Oleh : PROF. DR. KOMARUDDIN HIDAYAT (Rektor UIN Syarif Hidayatullah)

Sumber artikel Okezone

10 Desember 2012

BIROKRAT vs INTELEKTUAL


Dalam dunia kerja, birokrasi sering dikeluhkan tidak bisa mengembangkan intelektualitas. Ditambah lagi, isu reformasi birokrasi yang menuntut para birokrat agar profesional mencerminkan buruknya birokrasi selama ini. Beberapa teman birokrat mengeluh terbelenggu kerja-kerja teknis, pengap dengan dunia birokrat yang memaksa dia bermetamorfosis menjadi “makhluk lain” yang bukan dirinya. Idealisme yang dipegang teguh waktu di kampus dihadapkan pada sebuah sistem dan  kultur birokrasi yang berbeda. Dalam benaknya sering timbul pertanyaan, benarkah birokrat tidak mungkin menjadi intelektual yang baik? Atau intelektual pasti tidak mungkin menjadi birokrat yang baik?

Dalam perbincangan dengan penulis sering terlontar ketidaksiapannya untuk menjadi birokrat. Kalau bukan tuntutan ekonomi –maklum sudah beristri dan mempunyai beberapa anak– dapat dipastikan teman yang dulunya aktivis mahasiswa ini, sudah keluar dari dunia birokrasi. Problem teman baik penulis ini mengingatkan perdebatan tentang tema yang sama tentang peran sosial intelektual dan posisi ideal dihadapan negara dan masyarakat sipil.

Dua Pendekatan

Menjawab hal itu, ada dua alur pikir. Pertama, tidak mungkin seorang intelektual yang baik menjadi birokrat yang baik, karena watak keduanya yang berbeda. Intelektual berada pada menara gading. Ia adalah rujukan moral ketika ada krisis nilai dalam masyarakat. Ibarat lentera, intelektual selalu siap menerangi siapapun pencari kebenaran. Wataknya yang tidak terikat dengan yang duniawi membuat dia menjaga jarak dengan kekuasaan. Tidak memperdulikan lagi citra diri ataupun kedudukan sosial, intelektual mengarahkan segala dayanya untuk perubahan sosial. Keintelektualannya tidak hanya diuji oleh koherensitas teoritik belaka, lebih dari itu ralitas empiris menjadi ujian akhir dari daya imajinya. Antonio Gramsci mengkoseptualisasikan sebagai intelektual organik, yakni intelektual yang tidak tercerabut dari basis massa dan mengarahkan segala daya untuk proses humanisasi masyarakat. Implikasinya, ia musti menjaga jarak dengan segala bentuk kuasa dan birokrasi. Tak jarang kesendirian dan kesunyian adalah “ruang kerjanya”.

Adapun birokrat jauh dari kualifikasi yang pertama. Dalam pandangan Hannah Arendt dalam teori tindakannya menyatakan birokrat tidak lebih dari “pekerja”. Tindakan “kerja” ala Hannah Arendt mungkin mirip dengan kasta Sudra dalam tradisi Hindu. Ia dicirikan pada keterikatan duniawi yang kuat. Yang ada dalam pikiran para Sudra adalah bagaimana menumpuk harta yang sebanyak-banyaknya tidak peduli dengan cara memperolehnya. Kesadaran tertingginya adalah harta dan kedudukan.

Cara pandang ini lebih mengidentifikasi birokrat tidak lebih dari kepanjangan tangan kekuasaan yang cenderung korup. Paradigma Hobbesian ini seakan menemukan konfirmasinya jika melihat sejarah munculnya birokrasi di negeri ini. Berawal dari pamong praja bentukan kolonial berfungsi menjadi komparador pada sistem sosial kolonialistik waktu itu. Mereka dikondisikan hanya menjadi elit bukan vanguard. Ia dibiarkan berjarak dengan masyarakatnya. Dengan pengkalimatan lain,  birokrasi dengan penguasa menjadi satu kesatuan dan rakyat menjadi the other yang diperlakukan sesuai dengan kepentingannya. Karenanya, dinamika model birokrasi yang demikian lebih kedalam bukan keluar. “Dinamika kedalam” dalam pengertian bahwa  birokrasi lebih sibuk melayani penguasa dan dirinya sendiri.  Pandangan ini juga meyakini meskipun sekarang ada perubahan struktur dan modernisasi sosial politik tidak secara otomatis terjadi transformasi budaya feodal yang melekat pada  para birokrat itu yang masih ingin dilayani, bukan aktor transformasi.

Arus besar birokrasi yang demikian tidak mungkin didiami oleh seorang intelektual. Jika memaksakan maka kemungkinan yang terjadi adalah dikucilkan teman-temanya karena mufaraqah yang dilakukan atau, kalau tidak, ikut arus dalam mainstraim. Artinya, tidak mungkin menjadi intelektual yang baik jika masuk dalam dalam birokrasi yang bermuka buruk seperti paparan tersebut.

Kedua, sangat dimungkinkan seorang intelektual yang baik juga menjadi birokrat yang baik. Intelektual adalah persoalan kualitas individu sedang birokrat fungsi sosial seseorang, keduanya dengan demikian tidak saling meniadakan. Jika pada dasarnya seorang mempunyai kualitas yang memadai maka dunia birokrasi sejelek apapun tidak akan mengubah fungsinya keintelektualannya. Jiwa transformasi dan ketidakterikatannya pada dunia tidak akan tercemar dengan “comberan birokrasi”. Pandangan yang kedua ini menemukan bukti tokoh-tokoh yang tidak tereduksi keintelektualannya karena berenang di lautan birokrasi seperti Sudjatmoko, K.H Wahid Hasyim, Munawir Sadzali dan lain sebagainya.

Karena dalam prespektif kedua ini seorang intelektual tidak ditabukan untuk dekat bahkan bagian dari kekuasaan termasuk masuk dunia birokrasi. Justru akan mempunyai nilai lebih. Intelektual yang demikian akan menggunakan kekuasaan yang ada menjadi alat melandaskan angan-angan sosialnya sehingga mendapat pijakan empiris.

Belajar dari Habermas

Secara ringkas dan sederhana Habermas mengkritik kecenderungan modernisasi yang berbasis rasionalitas tetapi justru bersifat irasional. Titik penting kritik Habermas adalah modernitas telah mereduksi rasionalitas menjadi pusposive-rational action. Rasionalitas yang demikian terjebak pada model teknokratik yang birokratis. Administrasi dan tertib organisasi menjadi lebih penting dari substansi. Dengan demikian rasionalitas modern justru tercerabut dari semangat humanisasi yang menjadi idealitas kelahirannya. Misal, program keluarga sakinah hanya ada dalam pembuatan program kerja dan laporan seadanya bahwa kerja itu sudah dilaksanakan dengan mata anggaran sekian, lalu dipertanggungjawabkan secara minimalis asal tidak menyalahi “prosedur normal” birokrasi bisa dikatakan program  itu berhasil. Pendekatan  teknokratik yang demikian hanya mereduksi program mulia keluarga sakinah hanya diatas kertas tanpa terlibat serius dalam upaya-upaya pemberdayaan yang sesungguhnya. Jika itu bertemu dengan mental “kerja” birokrat bisa jadi program tersebut dijadikan “lahan” menampah pundi-pundi rupiah dengan sedikit modifikasi laporan pertanggunggjawaban.

Oleh karena itu Habermas menawarkan kebuntuan dari rasionalitas yang hanya bertumpu pada maximing expected utilities ini dengan tindakan komunikatif yang dibimbing dan mempertimbangkan prhoenosis (nilai baik-buruk) dalam setiap kebijakan dan aplikasinya. Konsekuensi logis lanjutannya,  mulai dari perancangan program sampai taraf pelaporan dan evaluasi ada konsistensi nilai atau ideologi yang dapat dipertanggungjawabkan secara moral oleh para birokrat. Dengan demikian birokrasi benar-benar menjadi “alat negara” untuk kesejahteraan dan kemakmuran rakyatnya yang dapat dijadikan instrumen efektif untuk perubahan sosial dimasyarakat.

Waba’du. Dari uraian diatas ada hikmah yang dapat dipetik oleh birokrat, Pertama, hendaknya para birokrat tidak memaknai birokrasi, meminjam teori tindakan Hannah Arendt, menjadi tempat “kerja” tanpa “karya”. “Kerja” hanya berorientasi pada penghasilan dan survivalitas diri dalam pengertian yang minimal. Artinya, orientasi dan keterikatan pada duniawi sangat kuat. Pada titik ini maka “kerja” berlaku hukum rimba : yang kuat dialah yang menang. Akan sulit membedakan kualitas kemanusiaan dengan hewan. Demikian juga akan sulit mengharapkan birokrat yang mempunyai empati, kebijakan yang manusiawi , bersih, jujur dan amanah. Ia akan sangat kaku dan berjalan hanya dengan standar minimal normatif administratif. Maka tidak heran jika dalam hati terdalam para birokrat sering tersembul pernyataan, “pokoknya saya untung, dan selamat serta dapat dipertanggungjawabkan.”

Kedua, hendaknya birokrat memperkuat visi kepemimpinan serta mempunyai ideologi dan teori yang transformatif. Jika tidak, maka jangan harap ada empati terhadap perubahan sosial yang mustinya lahir dari kebijakan-kebijakannya. Penulis sendiri mengalami betapa birokrat gagap menghadapi realitas yang terjadi dimasyarakat. Tindakan yang diambil hampir selalu pendekatannya birokratis dan jauh dari pemecahan masalah yang sebenarnya. Dari hikmah itu, tidak berlebihan jika saya membesarkan hati seorang teman dengan berkata : “Tidak usah khawatir, temanku, kau bisa jadi birokrat yang baik dengan memegang idealismemu”. Mudah dinasehatkan, sulit dilakukan bukan?

09 November 2012

Pimpinan oh Pimpinan........


Pesta demokrasi di kampusku yang di adakan setiap tahun sekali merupakan pesta mahasiswa secara resmi yang sangat kompleks yang di adakan oleh BEM/DPM kampus. Ini merupakan pesta penentuan sikap untuk memilih pemimpin yang progresif yang tau cara me menej arah kebijakan birokrasi terhadap kepentinga mahasiswa. Tentu keberadaan mereka di kursi yang telah tersediakan merupan representasi dari suara mahasiswa untuk di sampaikan kepada birokrasi.

Pesta demokrasi kampusku biasanya terjadi persaingan yang sangat ketat baik antar OKP, baik yang primordial, maupun yang skala nasional menunjukan giginya masing-masing kemudian di taburi dengan propaganda yang setinggi langit. Yang seakan menjanjikan kampus ke awan surga.

Penulis tidak mensesalkan akan hal itu, akan tetapi paradigma politik internal kampus masih bersikap primordialisme, yang ending akhirnya melahirkan satu diskriminasi plitik yang tidak etis dalm kalangan mahasiswa. Seharusnya itu perlu di bumi hanguskan kalau menurut penulis. Karena. Akan melahirkan satu kontradiktif yang sangat panas. Di anataranya adalah politik pengklaiman yang sangat kental yang seakan akan hanya ada satu suku yang layak menjadi penguasa atau presma.

Seharusnya menjadi pemimpin itu untuk kampusku itu adalah orang-orang yang berani menyatakan sikap untuk kepentingan rakyat kampus/mahasiswa. Sebab sejarah telah mencatat terkait dengan dinamika kampusku, itu belum ada satupun pemimpin yang memberanikan diri menyatakan sikap. Sebab, tolak ukur kriteria pemimpin untuk konteks ikip itu sejauh mana dia pandai mencarikan solusi terkait dengan sebuah persoalan. Misalnya ketika SPP melambung tinggi, kemudian fasilitas yang tidak memadai, pelayanan birokrasi yang tidak efektif dlln. Tapi kalau seandainya persoalan ini di jadikan sebagai bahan wacana dan retorika belaka, tidak tutup kemungkinan finalnya akan di jadikan referensi politik untuk berkonspirasi negatif atau kepentingan pribadi. Alasannya jelas, jika saja presma menekan aka kepentingan mahasiswa maka dia tidak mendapatka bagian misalnya, di s2 kan oleh kampus, dan begitu pun sebaliknya. Jika presma pandai memainkan peta politik yang dimana birokrasi berada dalam satu posisi yang tidak merugikan maka surga untuk masa depan presma.(bac.ikip politik)

Selama ini mahasiswa di jebak dalam persoalan kegiatatan yang di canangkan oleh BEM/DPM yang hanya saja di nikmati oleh segelintir kelompok tertentu. Seharusnhya tolak ukur BEM/DPM adalah sejau dia melawan segala kebijakan kampus yang di nilai kurang menguntungkan masa depan mahasiswa, mengingat mahasiswa ikip berlatar belakangkan rakyat kelas bawah dan menengah, pendapatan ortunya cukup, bahkan di bawah standar. Indikatornya adalah keterlambatan mahasiswa membayar SPP dan biaya-biaya lainnya.
Lalu, memungkinkah kita bertanya kepada ketua BEM/DPM yang setengah hati itu !

Saya rasa wajar sebagi hak seorang mahasiswa yang mempertanyakan persoalan itu. Tapi, tidak tutup kemungkinan jawaban itu akan di ekspor secara detail. Kecuali informasi itu di sebarkan hanya getahnya saja, dan itupun ada konspirasi yang memadai menyangkut masa depan imeg kampus yang harus di jaga oleh orang-orang yang berkepentingan. Jadi mereka tidak sembarang menyebarkan isu akan tetapi isu itu di poles sedemikian rupa oleh kelompok tertentu. Setingan-setingan yang memadai akan persoalan itiu tergantung dari pada tim yang telah di bentuk oleh kampus yang di percayakan untuk memainkan isu-isu itu di tengah-tengah mahasiswa.

Jadi tidak heran persoalan kampusku dalam konteks SPP yang melambung tinggi di respon pada akhir tahun oleh BEM/DPM institut. Seharusnya awalnya ada kesepakatan tertulis oleh presma terhadap birokrasi kampus, khususnya terkait masalah SPP untuk tidak di naikan lagi pada tahun berikutnya. Kalau saja sikap embel-embel semacam itu yang di tampilkan oleh aktifis oportunis, jadi wajar seluruh mahasiswa selama ini tidak mau tau dengan kondisi kampus yang ada, mengingat seluruh aktifis kampus terjadi sikat-siku dengan birokrasi.

Tidak heran mahasiswa setiap di tanya Oleh dosennya, kenapa anda tidak masuk ? hampir 70% beralasan kurang enak badan alias sakit. Jadi, dosen yang tidak mau tau akan hal yang subtansial yang tidak masuk dalam kategori logika mereka, tetap akan bersih keras memberinya sanksi yang tidak rasional.
Maka dari dengan adanya kondisi kampus yang tidak sehat seperti ini perlu ada sebuah pertimbangan rasional yang murni, memilih pemipimpin yang militan paham akan kondisi rakyat kampus. Yang tau latar belakan

24 Oktober 2012

Aktivis atau Akademis


Mahasiswa dibenturkan kepada dua pilihan yaitu menjadi mahasiswa berorganisasi atau menjadi mahasiswa yang hanya mengejar nilai di kelas untuk prestasinya, hal tersebut bisa membingungkan untuk semua mahasiswa, hal tersebut tidak hanya sebagai pilihan semata, namun harus menjadi jalan hidup di kampus, pribadi seorang mahasiswa bisa terbentuk ketika dia terjun di organisasi dalam kampus ataupun organisasi luar kampus, dikarenakan seorang mahasiswa bisa membentuk karakter dari pergaulan dengan orang-orang yang berada di organisasi, dan dalam organisasi mahasiswa diajarkan dalam beberapa hal yaitu, belajar untuk memenej hidupnya, di mana fikiran dia akan terbagi-bagi, anatara ber organisasi dan tujuan utama dari rumah yaitu mengejar prestasi akademis, hal tersebut merupakan suatu faktor penghamabat mahasiswa untuk terjun di organisasi karena mahasiswa terbebani oleh ketakutan bahwa terjun di organisasi akan menghambat study, namun hal tersebut tidak bisa dikatakan benar, malah ketika di organisais mahasiswa justru bisa lebih mengejar prestasi kelas dan hidup, mengapa bisa begitu? Karena , ketika di organisasi mahasiswa akan terlatih untuk mengatur waktunya antara kuliah dan berorganisasi, disamping itu di organisasi kita banyak mengalami pengalaman yang sangat bermanfaat untuk menjalani hidup ini.

Apalagi kalo mahasiswa tersebut menjadi aktivis yang benar-benar aktivis, yaitu maahsiswa yang matang akan pengalaman berorganisasi, bukan hanya setengah-setengah menjadi akitivis. Banyak orang-orang mengatakan bahwa mahasiswa yang terjun di organisasi hanaya mengejar popularitas saja di kampus, yaitu bisa dikenal oleh dosen dan mahasiswa terutama adik tingkat, namun hal tersebut tidak bisa dipungkiri oleh sebagian besar aktivis kampus, namun hal tersebut harus menjadi batu loncatan mahasiswa yang berorganisasi untuk lebih bersemanagat berorganisasi, hal tersebut merupakan sebagian kecil dari manfaat berorganisasi manfaat lainnya sangat banyak ketika seorang mahasiswa berorganisasi.

Dan ketika melihat mahasiswa yang tidak mau terjun di organisasi maka pihak birokrat kampus telah gagal untuk mendidik mahasiswanya, karena seseorang yang matang dikelas belum tentu dia bisa matang hidup sosialnya, faktor tersebut diakibatkan kurangnya rangsangan dari pihak birokrat kampus untuk bisa merangsang mahasiswanya untuk terjun diorganisai,hal tersebut merupakan masalah yang cukup serius bagi dunia pendidikan di Indonesia yang hanya mengejar dari segi keilmuan dikelas saja.

08 Oktober 2012

Dosen dari Aktivis Kampus


Tulisan ini sengaja dibuat sebagai bahan renungan dan mungkin menjadi bahan pertimbangan pihak terkait, seiring dengan akan dibukanya lowongan CPNS Dosen pada Juli 2012 oleh pemerintah. Saya bukan ingin men-justifikasi bahwa dosen yang berasal dari aktivis kampus itu lebih baik, atau ingin mengatakan bahwa aktivis kampus itu harus menjadi dosen, atau tidak pula ingin men-generalisasi semuanya menjadi sederhana.

Saya hanya ingin berbagi cerita, bahwa ternyata (berdasarkan pengalaman dan pengamatan pribadi) – para dosen yang dulunya aktivis kampus, terlihat lebih care terhadap masalah-masalah kampus (khususnya kemahasiswaan) dan lebih bijak melihat masalah negeri ini (korupsi, kolusi dan nepotisme).  Saya melihat bahwa; yang gerakannya lebih cekatan, yang interaksi sosialnya lebih cair, yang lebih dekat dengan mahasiswanya, yang kemampuan komunikasinya lebih cakap, yang daya kritisnya lebih kentara, yang kemampuan manajerialnya lebih mumpuni, rata-rata berasal dari komunitas aktivis kampus dulunya.

13418092131265335833Ya, mereka dulunya adalah aktor-aktor gerakan mahasiswa, ada yang di himpunan mahasiswa jurusan, ada yang di senat mahasiswa atau BEM (Badan Eksekutif Mahasiswa), ada yang di UKM (Unit Kegiatan Mahasiswa), jabatannya pun beragam: mulai dari ketua, sekjen, koordinator atau staff  biasa, tidak jarang  pula, ada yang dulunya aktif di organisasi ekstra universiter, seperti : KAMMI, HMI, PMII, IMM, dsb. Semasa di kampus, mereka berjibaku dengan segudang aktivitas sosial, mereka tidak egois, dengan hanya belajar untuk semata mengejar IP (Indeks Prestasi) yang tinggi, an sich.

Mereka tahu benar suka dukanya berorganisasi, berdemonstrasi untuk meng-advokasi masalah negeri, berdiskusi dan berdebat dengan birokrasi (dari level jurusan, fakultas, universitas bahkan pejabat negara), mereka bepergian wara-wiri ke kampus lainnya untuk menjalin komunikasi, tak jarang ‘lembur’ menginap di kampus untuk menggarap kegiatan (semisal: OSPEK, bakti sosial, seminar, demonstrasi, dsb) – mereka pun merasakan sulitnya membagi waktu antara studi dan organisasi (bahkan kabarnya, dulu banyak pula aktivis kampus, yg terpaksa harus DO/Drop Out karena “lupa” memikirkan studi). Namun, tidak sedikit dari mereka yang muncul sebagai ‘bintang’ dalam kancah akademik, mereka punya prestasi akademik yang membanggakan, bahkan lebih baik dari teman-temannya yang hanya KP-KP (kuliah pulang-kuliah pulang).

Setelah menjadi dosen, bekas-bekas itu pun tidak hilang, saya melihat mereka (dosen yang aktivis kampus), lebih cekatan untuk mendengar keluh kesah mahasiswa, mau berjibaku secara sukarela dengan berbagai kegiatan mahasiswa (tanpa mengharap tanda tangan honor/transport), siap melayani diskusi untuk sekadar brainstorming terhadap masalah negeri, mau bermalam dan berkumpul bersama dgn mahasiswa (tidak hanya lembur untuk mengerjakan proposal akreditasi atau penelitian kampus), bahkan tak jarang di antara mereka yang rela merogoh kocek pribadinya untuk membantu kesulitan mahasiswa – bahkan yang menjadikan saya haru adalah di antara mereka ada yang membantu biaya SPP dari mahasiswanya yang kesulitan/tidak mampu, SUBHANALLAH….

Ya, menurut saya…..begitulah seyogyanya DOSEN (baca: pendidik), tidak cukup hanya modal PINTAR atau JENIUS saja, tidak hanya cukup berasal dari JEBOLAN PTN (Perguruan Tinggi Negeri) atau PTS (Perguruan Tinggi Swasta) ternama atau pun Kampus Luar Negeri yang hebat, namun mereka PRAGMATIS, CUEK, MISKIN HATI dan tidak peduli dengan kondisi kampusnya, tidak care dengan kesulitan mahasiswanya, apatah lagi masalah negeri ini. Ukuran prestasinya hanya semata karena jumlah penelitian yang dilakukannya, jumlah paper yang ditulisnya, jumlah “materi” yang diterima dari efek profesinya. Wah, sudah begitu banyak “orang pintar negeri” ini yang hanya memikirkan isi perutnya sendiri, tidak peduli thd biaya edukasi yang terus membumbung tinggi yang tidak terjangkau oleh rakyat negeri ini karena semuanya diukur dengan materi atas nama profesi. Model dosen yang seperti ini akan sangat antipati terhadap kritisasi mahasiswa, takut demo atau didemo mahasiswanya, bahkan acapkali muncul lontaran kalimatnya yang bernada SINIS bahkan cenderung MEREMEHKAN: “ngapain sih, kalian mahasiswa demo-demo segala?”, “sudahlah kuliah saja yang benar, rajin saja belum tentu lulus!”, “hei, jangan sok jadi pahlawan ya, emang kalian siapa, emang suara kalian ada yang dengar?”.

Sangat sulit memang bagi para aktivis kampus ini untuk menjelaskan dari A sampai Z kepada dosen yang model begini, mengapa mereka berdemonstrasi (turun ke jalan) dan mengapa mereka berdebat dengan birokrasi tentang masalah negeri. Ya, karena dosen model ini - cukup nyaman dengan kondisinya tanpa harus cape-cape memikirkan yang lainnya, cukup baginya untuk melaksanakan Tri Darma Perguruan Tinggi saja (mengajar yang “baik”, melakukan “penelitian” dan kegiatan “pengabdian masyarakat”). Beberapa aktivis mahasiswa mengeluhkan, “model dosen kayak ini, nggak nyambung-walaupun sudah dijelaskan berkali-kali” atau “mereka, nggak punya hati, kalee….” atau “susah nih dosen diajak ngobrol, nggak gaul sih ketika mahasiswa…!”.

Menurut subjektifitas saya, jika kampus dipenuhi oleh dosen berkarakter seperti ini, saya yakin - lambat laun namun pasti, kampus akan berubah menjadi Laboratorium Pembuat Robot yang mencetak manusia cerdas dengan kemampuan intelektual tinggi, namun miskin hati dan tidak memiliki empati. Boro-boro mendiskusikan ttg negara,  emang gue pikirin !

—————————–
Sumber : Coretan seorang Guru, aktivis Reformasi 1998

11 September 2012

Membangun Gerakan Mahasiswa Melawan Kaum Borjuasi NasionalMembangun Gerakan Mahasiswa Melawan Kaum Borjuasi Nasional


Melihat realitas sekarang ini, pergerakan mahasiswa sudah mulai mengalami stagnanisasi. Apakah mahasiswa sudah kehilangan identitas ? ataukah medan gerak mahasiswa telah terpenjara oleh sistem sehingga memunculkan pragmatisme dan apatisme dikalangan kaum intelektual sendiri.

Padahal Sang proklamator sebagai Pemimpin Besar Revolusi telah mengamanatkan kepada mahasiswa dan pemuda-pemudi, agar melalui persatuan dan kesolidan mampu menjadi agen perubahan sekaligus kaum intelektual pengimbang rezim pemerintahan.

Menurut akar sejarah bangsa indonesia mulai masa pergerakan nasional Boedi Oetomo 1908 dan Pemuda 1928, kemerdekaan 17 Agustus 1945, Soe Hok Gie tahun 1966, masa Orde Lama, masa Orde Baru sampai masa Orde Reformasi yang sepenuhnya dimotori oleh pergerakan pemuda dan mahasiswa dalam menegakan tonggak kemandirian bangsa secara jelas.

Namun dalam mencermati perjalanan reformasi seiring dengan proses transformasi kepemimpinan nasional, terdapat sejumlah hal yang patut disimak. Yakni berbagai hal kegiatan yang bernuansa politik muncul dipermukaan, dari yang serius bahkan yang bersifat dagelan muncul tanpa ada rem cakram pencegahnya alias blong.

Mulai dari detik, menit, hari, minggu, bulan, tahun hingga saat ini, pengaruh akan mahasiswa dalam melakukan pergerakan serta perubahan Bangsa Indonesia tenyata telah ditutupi oleh mereka yang menjalankan birokrasi secara KKN, yang semakin parah seiring dinamika negeri ditambah lemahnya daya ingat Anak Bangsa akan tragedi saat ini sehingga kemudian nyaris menuju peti es atau malah cukup menjadi arsip catatan sejarah.

Bercermin dengan kasus yang telah terjadi sebelumnya serta masih banyak kasus-kasus pelanggaran HAM yang tidak diselesaikan secara tuntas, mulai dari pembunuhan massal 1965, pelanggaran HAM di Aceh dan Papua, Kasus Tanjung Priok, Kasus Way Jepara-Lampung, Penculikan Para Aktivis Pro-Demokrasi 1997/1998, Kasus 27 Juli 1996, Tragedi Trisakti, Tragedi Mei 98, Tragedi Semanggi I, Tragedi Semanggi II, Kasus Ambon, Kasus Poso, Kasus Pembunuhan Pejuang Penegak HAM Munir, Priok Berdarah, Kasus Korupsi pada tiap bank mulai dari BI, BLBI, Bank Century, hingga Markus yang didalangi dan dibekingi oleh elit-elit politik dan pejabat-pejabat teras yang haus harta dan kekuasaan hingga tega mengorbankan dan menindas rakyat.

Begitu juga dengan kasus yang terjadi di daerah kita sumatera barat yang masih belum mendapat kejelasan-kejelasan sampai detik ini.

Permainan ketoprak humor para politisi ini mulai membingungkan rakyat bahkan cenderung membawa rakyat kepada keputusasaan sosial, ekonomi yang morat-marit, budaya yang semakin terkikis, dan program pendidikan yang tidak jelas sehingga makin membawa rakyat menuju jurang ketidakpercayaan atas perjalanan reformasi dan demokratisasi.

Persoalan ini menjadi dilema yang seakan-akan sulit terpecahkan.

Demikian juga dengan gerakan pro demokrasi yang sangat sulit untuk melepaskan diri dari beban mental proses reformasi ini, ditambah kemunculan kekuatan-kekuatan fundamentalis makin menampakan wajah sangar dari sebuah bias reformasi, entah atas nama kepentingan murni ataukah hanya karena kepentingan kelompok atau bahkan bagian tidak terpisahkan dari strategi kekuatan pro status quo dalam upaya pengalihan tuntutan reformasi sejati dan semua peristiwa yang ada menjadikan daya gerak dan daya dobrak kaum pergerakan menjadi makin keblinger.

MAU KEMANA GERAKAN MAHASISWA?

Pertanyaan yang sekiranya muncul adalah sebuah retorika yang tidak terlalu membutuhkan jawaban teoritis namun justru membutuhkan kerja praktis dan kongkrit

Posisi dilematis memang sedang dihadapi oleh kalangan gerakan pro demokasi terutama gerakan mahasiswa yang sedang dalam keadaan ironis.

Perubahan konstelasi politik yang berubah cepat hampir setiap sepersekian detik, sangat mempengaruhi kajian dan analisa dari gerakan mahasiswa dan secara tidak langsung sangat mempengaruhi kinerja dari gerakan mahasiswa.

Secara tidak langsung kemudian timbul sebuah pertanyaan dalam jiwa kita apa yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah kancah permainan dan manuver borjuasi nasional ini?

Kembali Ke Sektor Kaum Buruh dan Rakyat

Tentunya akan ada pertanyaan lanjutan dari pernyataan ini. Diakui atau tidak bahwa rakyatlah yang paling menentukan dalam proses perubahan bangsa ini, dan gerakan untuk kembali ke rakyat harus dimulai dalam upaya membangun kesadaran politik di kalangan msyarakat bawah (grass root).

Tidak akan pernah ada revolusi yang berhasil tanpa disertai oleh massa yang sadar (Soekarno), pernyataan dari mantan revolusioner tersebut seharus dicamkan oleh kalangan gerakan mahasiswa jika ingin mewujudkan perubahan yang sejati.

Penyadaran itu dapat dimulai dengan mengadakan pendampingan-pendampingan pada daerah berkasus, dan ini sangat signifikan untuk dilakukan karena pada dasarnya jiwa perlawanan ada pada setiap manusia yang mengalami penindasan secara langsung.

Namun perlu ditegaskan disini, pendampingan sekaligus penyadaran politik bukan berarti datang dan terus menjadi malaikat.

Kesadaran yang dibangun bukan dengan memberikan pendidikan sistematis ataupun pendidikan ala bankir, dimana masyarakat hanya menerima dan dijejali dengan teori tertentu sebagai upaya penyadaran hak sebagai warga negara, namun yang lebih mendasar adalah memberikan penyadaran tentang hak mereka dan selanjutnya menempatkan masyarakat ini sebagai subyek dari proses pendidikan ini.

Pendidikan ini dikatakan berhasil apabila masyarakat sudah bisa melepaskan diri dari sikap fatalismenya dan mempunyai mobilitas yang tinggi serta secara aktif terlibat dalam sistem politik. Penumbuhan kesadaran ini sangat efektif untuk mencegah terjadinya bahaya laten kerinduan terhadap Orde Baru dan juga hegemoni rezim korporatokrasi, pada akhirnya pendidikan ini berupaya untuk membuat rakyat memiliki, Goldman, kesadaran riil melalui kesadaran yang sangat memungkinkan (real consciuosness through maximal possibble consciuosness, Paulo Freire) yang merupakan inti dan dasar dari sebuah revolusi.

Kembali Ke Kampus

Bukan berarti bahwa gerakan kembali ke kampus disini sama dengan gerakan NKK/BKK, tapi berupa penilaian dan refleksi yang sangat obyektif dalam memandang arah dan pola gerakan mahasiswa. Berkaca dari gerakan mahasiswa di daratan Eropa dan Amerika Latin tahun 60-an, dimana sebagian besar gerakan rakyat tumbuh dari akumulasi gerakan / gejolak dalam kampus.

Ini seharusnya menjadi acuan yang sangat mendasar bagi pola gerakan di negara ketiga khususnya Indonesia.

"Kembali ke kampus" bukan berarti mahasiswa untuk seterusnya menjadi kutu buku, namun gerakan ini harus mulai membangun kekuatan untuk sebuah revolusi pendidikan.

Mau tidak mau harus diakui bahwa menyurutnya gerakan mahasiswa juga sebagai akibat dari sistem pendidikan Indonesia yang sangat menindas.

Kondisi ini yang sekarang harus mulai didobrak oleh kalangan pro demokrasi, dan ini telah dilakukan oleh sebagian besar kampus di Indonesia, namun semua ini barulah pada tahapan permukaan belum pada tataran yang lebih substansional.

Penyadaran tentang hak politik mahasiswa dan pemahaman tentang penindasan negara melalui sistem pendidikan harus mulai diinjeksikan kepada kalangan grass root mahasiswa sebagai upaya membangun kekuatan dan konsolidasi menghadapi manuver kaum borjuasi nasional.

Sehingga dalam kurun beberapa waktu kedepan bukan sekadar segelintir aktivis mahasiswa tetapi akan tumbuh ratusan bahkan ribuan mahasiswa yang siap untuk revolusi.

Dua hal ini sekiranya yang harus dilakukan oleh gerakan mahasiswa ditengah permainan elit politik sekarang ini. Dengan mempertimbangkan situasi nasional dan psikologis rakyat yang sudah mulai jenuh dengan perjalanan reformasi total yang belum tuntas, sudah seharusnya gerakan mahasiswa mengubah pola gerak yang ada, namun tetap harus disesuaikan dengan kondisi tiap daerah tertentu.

Namun begitu disadari bahwa kondisi geografis Indonesia yang sebagian besar dibatasi oleh lautan, tidak memungkinkan melakukan gerakan seperti mahasiswa di belahan Amerika Latin dan Eropa dengan pola bola saljunya.

Tetapi keterbangunan musuh bersama (common enemy) dikalangan gerakan mahasiswa terutama di kalangan gerakan mahasiswa yang radikal sudah semestinya dilakukan untuk sebuah gerakan yang masif.

Dengan melakukan penyadaran di kedua sektor ini maka suatu saat dalam sebuah momentum politik yang tepat, maka diyakini akan timbul sebuah perlawanan dari rakyat yang sadar.

Dan pola ini bukan berarti meninggalkan tuntutan reformasi tetapi justru menjadi entry point yang sangat kuat untuk melangkah kepada tuntutan itu dengan meminimalisir ketakutan rakyat akibat kesadaran politik yang semu dari negara.

Membangun kekuatan dimana rakyat melakukan perlawanan bukan atas dasar ajakan tetapi lebih karena sadar akan adanya ketertindasan. Educacao como practica da liberdade (Paulo Freire), pendidikan adalah sebagai praktik pembebasan keyakinan akan massa yang sadar dan keyakinan akan sebuah pendidikan pembebasan, maka sudah seharusnya gerakan mahasiswa tidak ragu-ragu lagi dengan gerakan penyadaran dan pengorganisiran massa.

Salam Perjuangan Kawan.!!!!


Sumber : Kariadil Harefa, (Mentri Luar Negeri Badan Eksekutif Masyarakat Mahasiswa Universitas Bung Hatta)

04 September 2012

Mahasiswa Apatis VS Idealis


Mengutip judul pernyataan salah seorang kawan dalam postingan tulisannya di situs jejaring sosial. Mahasiswa yang apatis versus mahasiswa idealis (aktivis). Saya tertarik untuk mencari tahu apa sebenarnya yang terjadi dengan mahasiswa.? Dalam sejarah perjuangan bangsa Indonesia, gerakan mahasiswa seringkali menjadi cikal bakal perjuangan nasional, seperti yang tampak dalam lembaran sejarah bangsa. Sejak tahun 1908 sampai dengan tahun 1998, mahasiswa menjadi penyeimbang pemerintah yang represif, diktator dan bertindak semena-mena. Mengapa Harus Mahasiswa???

Mungkin dalam benak kita muncul pertanyaan itu. Mengapa harus mahasiswa, siapa sebenarnya mahasiswa? Berdasarkan karakterisitik alamiahnya, mahasiswa memiliki keunggulan tersendiri dibandingkan elemen – elemen masyarakat lainnya. Sebagai seorang yang memiliki jiwa muda, mahasiswa merupakan sesosok figur yang bisa dikatakan memiliki karakter yang masih memiliki idealisme yang tinggi dalam berjuang, mereka tidak segan – segan untuk menyuarakan kekesalan dan kritik mereka terhadap siapapun yang mereka anggap menyimpang dari kondisi ideal. Mahasiswa merupakan sosok insan akademis yang sedang menjalankan aktifitas pendidikan yang terbilang tinggi sehingga mereka beranggapan bahwa ilmu yang mereka dapatkan merupakan sebuah senjata pamungkas untuk mengabdikan diri ke masyarakat. Mahasiswa juga dikenal kreatif dalam membangun ilmu yang didapatkannya serta mengaplikasikannya ke masyarakat karena secara biologis mahasiswa masih memiliki kondisi yang fresh untuk berpikir dan bertindak secara fisik. Mahasiswa juga memiliki keingintahuan dan sikap kritis yang tinggi terhadap kondisi di sekitarnya, dan dengan modal intelektualitas yang ia punya ia senantiasa mampu untuk memperjuangkan kondisi sosial yang dilihatnya agar menjadi lebih ideal dan dinamis.

Mungkin hal inilah yang menjadi faktor utama mengapa mahasiswa yang selalu menjadi aktor peradaban dan tulang punggung perjuangan bangsa dalam membangun peradabanya, bahkan seorang Soekarno juga mengakui kemampuan yang dimiliki pemuda mahasiswa tersebut melalui statementnya “berikan aku sepuluh pemuda, maka akan aku guncang dunia”. Dan memang begitu lah kenyataannya dan fakta yang tidak bisa ditolak oleh siapapun. Namun Saat ini, sejujurnya mahasiswa kehilangan jati dirinya. Jika dulunya mahasiswa terlihat garang terhadap birokrasi dan pernah menjadi momok menakutkan bagi aparat birokrasi yang berkuasa saat itu,Gerakan mahasiswa saat ini menjadi mandul. Idealisme yang diagung-agungkan sejak masa lampau akhirnya dengan sendirinya tergerus oleh zaman yang menghadirkan persaingan yang tidak sehat. Mahasiswa tidak berdaya lagi dihadapan para birokrasi. Kenapa dan apa penyebabnya?

Salah satu penyebab yang saya yakini kenapa mahasiswa tidak berdaya lagi dihadapan birokrasi,karena mahasiswa saat ini tidak sejalan dan satu tujuan lagi dalam kehidupan di dunia kampus. Di dalam kampus Mahasiswa mengkotak-kotakkan diri dalam dua blok. Blok mahasiswa Idealis dengan Blok Mahasiswa Apatis. Dua blok inilah yang saya yakini selalu bersengketa dikampus manapun. ‘Mahasiswa aktivis’ menganggap ‘mahasiswa apatis’ sebagai mahasiswa yang tidak peka, pragmatis, oportunis, pengkhianat intelektual, atau belum menyadari hakikatnya sebagai mahasiswa. Sebaliknya ‘mahasiswa apatis’ menganggap ‘mahasiswa aktivis’ sebagi orang-orang yang tidak ada kerjaan, yang sok ikut campur, keras kepala, cari ketenaran dan mengidap penyakit sok pahlawan.

Hari ini jumlah mahasiswa yang cenderung bersikap apatis dan hedonis yang selalu mengikuti perkembangan zaman dengan segenap perubahan global, lebih banyak daripada mahasiswa yang mau berdiskusi dan senantiasa menyuarakan hak-hak dasar rakyat. Memang dilematika gerak dan langkah mahasiswa tersebut tak dapat kita salahkan sepenuhnya kepada mahasiswa itu sendiri. Dari kedua Blok ini memang mahasiswa yang memilih dalam blok Apatis memang lebih banyak. Jika dipersentasekan di setiap kampus diseluruh Indonesia, mahasiswa yang menjadi bagian blok Apatis ada 80% sedangkan untuk mahasiswa yang memilih tetap mempertahankan dan mewariskan perjuangan para mahasiswa terdahulu yang pernah berdarah-darah ketika memperjuangkan dan merebut kemerdekaan, Malari, menjatuhkan diktator soeharto,dll hanya 20 %. Banyaknya mahasiswa yang memilih menjadi bagian Blok Apatis (rumah-kampus-rumah). Dalam kasus ini kita tidak bisa menghakimi kawan mahasiswa yang tidak peduli terhadap persoalan rumit bangsa ini..Mungkin karena tuntutan hidup yang tidak menganjurkan mahasiswa untuk berlama-lama di kampus. Kuliah hingga 5 tahun atau lebih saat ini, bukan sebuah hal yang patut untuk dibanggakan. Biaya kuliah semakin mahal dari tahun ke tahunnya. Sehingga pilihannya cuma kuliah dan kuliah. Tidak untuk yang lainnya. Namun Pengkotak-kotakan dalam Mahasiswa seharusnya tidak perlu ada kotak yang memisahkan mahasiswa. Sebagai seorang mahasiswa, yang hendak berbuat banyak bagi orang lain disekitar, sebenarnya inilah pilihan yang sebenarnya.

Sejatinya mahasiswa merupakan sebuah kekuatan besar yang telah mencatatkan namanya pada panggung sejarah di negeri ini. Gerakan mahasiswa di Indonesia adalah kegiatan kemahasiswaan yang ada di dalam maupun di luar perguruan tinggi yang dilakukan untuk meningkatkan kecakapan, intelektualitas dan kemampuan kepemimpinan para aktivis yang terlibat di dalamnya. perihal tinta emas yang telah digoreskan oleh mahasiswa terdahulu yang mampu membawa perubahan dalam bangsa ini. Mungkin sejarah gerakan mahasiswa ini layaknyalah kita jadikan sebagai bahan refleksi kita semua khususnya yang sekarang menjadi seorang mahasiswa bahwa inilah sebenarnya peran dan tanggung jawab kita sebagai mahasiswa yang telah ditunjukkan oleh para pendahulu kita yang sudah terlebih dahulu menancapkan tombak perubahannya di negeri ini. Lantas kita yang seharusnya melanjutkan perjuangan mereka harus bagaimana??? apakah sejarah ini layak kita sia-siakan dengan keapatisan kita selama ini?? Menghilangkan pengkotakan dan menyatukan kembali seluruh elemen mahasiswa di bawah panji ”kedaulatan rakyat” ataukah malah sebaliknya? Tetap terkotak-kotak sebagai bagian dari tuntutan perkembangan zaman yang tidak berpihak bagi perkembangan bangsa ini agar lebih baik dan sehat. ?

Sumber : Kompasiana

19 Agustus 2012

Selembar Kritik, dari Kami, MAHASISWA

Mahasiswa, selalu menghadirkan suasana dimana emosi mudah sekali bergejolak. Rupanya semangat muda, yang seperti yang dikatakan bang Rhoma, masa yang berapi-api, yang memotivasi para pemuda, para pejuang berjiwa muda, yakni para mahasiswa untuk menyeru kepada turunya keadian bagi negeri ini. dinamika perkampusan yang sarat akan demokrasi memberi ruang bagi para mahasiswa untuk melakukan hal semacam itu. Tidak salah memang, apalagi yang terjadi di fakultas yang sangat kental akan budaya “memberontak”, yang pembidangan studi nya memang mengarah pada aksi-asi demonstratif.

Berita duka tersiar dari tanah betawi, Jakarta. Kali ini menghadirkan cerita pilu bagi mahasiswa, dan juga barangkali keseluruhan yang merasakanya secara pribadi. Beberapa organisasi mahasiswa mungkin bisa mencermati. Khususnya para aktivis pergerakan mahasiswa yang tidak pernah surut melancarkan gelombang penyuaraan atas ketidakadilan dan kesewenang-wenangan yang terjadi di negeri ini.

Sondang hutalagung, begitulah namanya. Dia merupakan mahasiswa dari salah satu unversitas swasta di Jakarta. Tidak ada yang istimewa dan tidak terdapat hal-hal yang membuat seantero heboh kecuali tindakan konyolnya beberapa waktu lalu yang mengguncang surat kabar. Sebagaimana para aktivis kampus yang sering berupaya turun ke jalan untuk melancarkan aksi protes, khususnya ditujukan kepada pemerintah yang dinilai gagal dalam melaksanakan fungsi utamanya, sondang pun begitu.

Tidak ada yang berani tutup bicara dan tetap tinggal diam saat ada ketidakberesan situasi yang ada, khususnya pada ranah politik kekuasaan, dimana pemerintah selalu tersandung didalamnya. Aksi-aksi yang dilakukan, semisal mengadakan parade motor dengan mengenakan atribut organisasi mahasiswa tertentu sambil berorasi yang intinya merupakan kritik sosial-politik terhadap para legislatif-eksekutif,yang marak terjadi di setiap kampus manapun di tanah air, sudah tidak merupakan sesuatu yang baru. Masyarakat juga tidak heran lagi, banyak yang memaklumi, begitu pula pemerintah.

Para mahasiswa, berangkat dengan keyakinan tinggi, didasari atas keinginan mereka untuk mengambil sikap terhadap segala problematika yang ada dengan segala pengerahan daya mereka. Mahasiswa militan, sebutlah seperti itu, tentu tidak serta merta langsung terjun ke lapangan tanpa memiliki pandangan apa-apa tentang negeri ini, tetapi, yang menggerakkan mereka adalah motivasi yang terus memacu demi tercapainya kesetaraan yang ideal bagi negeri ini, yaitu keadilan. Ini bukanlah persoalan apakah mereka merupakan golongan “kiri”, kanan ataupun tengah, tetapi lihatlah perjuangan mereka dalam usahanya memperjuangkan yang terbaik untuk semangat perubahan, untuk rakyat Indonesia, semangat mereka ibarat derita jeritan lelah para petani yang semakin dihancurkan keberadaan mata pencaharianya oleh produk-produk impor. Perubahan, sejatinya adalah cita-cita luhur yang sedang diperjungkan oleh idealisme yang dimiliki oleh para mahasiswa,sebab itu yang membuat mereka berani untuk berjejal sesak turun ke jalanan, berdesak-dessakan dan berhadapan langsung dengan aparat kepolisian yang notabene bersenjata lengkap.

Tidak usah diambil pusing, toh pemerintah sepanjang dekade,selalu dapat meredam aksi unjuk rasa mahasiswa, dimana terdapat pengecualian ketika reformasi itu pecah. Mereka memiliki akses utama dalam kekuasaan, jadi apapun bisa diupayakan, terutama keuntungan tersebut mereka pergunakan sedemikian rupa dalam menangani pengganggu tempat nyaman mereka, yaitu para mahasiswa. Salah satunya, dengan memasang para aparat kepolisian di lini-lini tempat demonstrasi itu pecah. Cukup dengan menggerakan penegak hukum tersebut dan menyediakan: pentungan,tameng, dan senjata yang diformulasikan khusus untuk menyambut datangnya aksi dan meredam tekanan para demonstran. Gampangnya yang diperbuat pemerintah ketika aksi yang ditujukan kepadanya itu pech, maka santai sejenak di dalam gedung, lakukan apa yang benar-benar enak untuk dikerjakan, mengopi, surfing internet, atau santai sejenak menikmati surat kabar. Biarlah mereka yang menghabiskan waktu mereka di luar dengan mencaci-maki para pejabat yang sangat nyaman sekali menikmati hidup. Lepaskan mereka, maka nanti aksi mereka akan dengan sendirinya terhenti saking telah capeknya berorasi dengan menguras banyak energi dan menghasilkan suara itu menjadi serak, setelah itu, pasti tanpa dikomando mereka akan bubar,selesai pula tuntutan yang mereka lakukan seiring dengan berhentinya aksi unjuk rasa yang mereka lakukan.

Mudah sekali, laksana ikan yang sedang megap-megap tetapi tidak diindahkan sampai akhirnya mati khabisan nafas. Lantas, seperti itulah kurang lebih sedikit “tanggapan” yang berkenan direspon oleh pihak birokrasi terhadap demonstrasi keras para mahasiswa. Kekecewaan tersebut juga terjadi saat sondang dan kawan-kawanya yang lain, melakukan aksi unjukf rasa di depan Istana Negara, pada Rabu(7/12). Mereka barangkali berharap, protes mereka yang diarahkan langsung menuju pemimpin tertinggi NKRI, dapat selayaknya memperleh tanggapan dari pihak istana, dengan salah satu menteri nya yang langsung keluar menemui para pengunjuk rasa tersebut, atau kalau sempat, pak presiden sendiri yang muncul langsung dan mendengar keluhan mereka tentang situasi sebenarnya negeri ini. tetapi yang jadi pertanyaan, apakah mungkin? Jawaban logisnya tentu : tidak. Maka, dengan dengan penuh amarah sondang membiarkan sekujur tubuhnya dilalap api, dia membakar diri. Bahkan,mahasiswa, sebagai golngan yang dipandang terpelajar sekalipun, terdapat sesosok, yang rela menghilangkan nyawanya dengan cara membakar diri.

Memang,silahkan nilai sendiri, ini tindakan bodoh,konyol, tidak masuk akal, atau semacamnya. Yang jelas, tidak mungkin seseorang bertindak jauh diluar batas kewajaran jika tidak ada alasan logis yang menyertainya? Tidak ada yang bisa menentukan kesalahan siapaah sebetulnya ini. bisa dibilang, sondang telah berputus-asa, dan membakar dirinya sebagai bentuk frustasi terhadap apa yang sekarang benar-benar terjadi. Lalu, sampai kapan drama yang diperagakan, pemerintah memainkan lakon sebagai tokoh antagonis yang tidak pernah sekalipun bnar-benar menggubris tuntutan para mahasiswa,apakah pemerintah menunggu sampai ada aksi bakar diri yang lebih masif lagi? Kami terus berdiri, walaupun tidak semua dari kami mengambil bagian dalam setiap demonstrasi di lapangan, di sisi lain kami ,para mahasiswa, terus gencar melakukan gerakan-gerakan lewat media, kami semua tidak akan berhenti untuk terus berupaya, yang dimana pada hakikatnya, kami semua butuh keadilan!

08 Agustus 2012

Mahasiswa dalam Rangkulan Politik dan Birokrasi


MASIH ingatkah bagaimana perjuangan mahasiswa meruntuhkan rejim Soeharto, ditengah era reformasi yang menggeliat. Pre­siden seumur hidup itu berhasil ditumbangkan oleh sang orator ulung pada tahun1998, siapa lagi kalau bukan mahasiswa. Terlihat jelas, ketika rezim Soekarno yang menerapkan pemerintahan militerisasi sa­ngat menekan kehidupan rakyat.

Bermula dari situlah gerakan mahasiswa yang tanpa hentinya melakukan presure demi persure untuk mengahantam setiap kebijakan yang keluar dari mulut bapak pembangunan itu. Bahkan, untuk menuju ideologi yang mereka tuntut, tak jarang drama bentrok kerap mereka pertontonkan, nyawa mereka pun terkadang menjadi korban tatkala lawan tak memakai hati lagi.

Perjuang mahasiswa kala itu, masih dapat diacungkan jempol. Rakyat masih menilai positif gerakan mahasiswa sebagai agen of change dan social of control. Terlalu ba­nyak catatan heroik yang ditorehkan oleh para mahasiswa atau pemuda Indonesia kala itu dalam perjuangannya menepaki negara ini kearah yang lebih baik.

Sekadar mencoba menyegarkan ingatan kita, terkait gerakan mahasiswa/pemuda yang telah mencatatkan dirinya dalam sejarah. Dalam buku “Mempersiapkan Generasi Baru : Investasi Jangka Panjang Pembangunan Sulawesi Selatan” terjelaskan bahwa rentetan perjuangan pergerakan pemuda dimulai sejak tahun 1908 yang dilakukan oleh kaum muda terpelajar dalam kelompok studi Budi Utomo, dilanjutkan pada tahun 1928 melalui pendeklarasian Sumpah Pemuda, sampai pada tujuan akhir pergerakan untuk memproklamirkan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Lalu kembali menumbangkan kekuasaan Orde Lama yang memberlakukan demokrasi terpimpin dan penyelewengan terhadap ideologi negara. Maka terjadilah reposisi zaman, dari Orde lama menjadi Orde Baru. Hingga Pergerakan mahasiswa yang secara massif tidak bisa dibendung lagi, Orde Baru pun ikut tumbang, meski telah berkuasa selama 32 tahun.

Jika kita melirik dari perjuangan mahasiswa sebelumnya, tentu status mahasiswa sebagai kaum intelektual sangatlah diagung-agungkan. Hanya saja, masa lalu tetap menjadi sesuatu yang tak akan kembali pada kondisi yang sama. Hal itu hanya tercatat pada lembaran-lembaran kertas yang menjadikannya sebagai sejarah belaka. Gerakan mahasiswa yang dulunya menjadi tumpuang masyarakat kini seakan lumpuh. Tak ada lagi idealisme yang bercokol dikepala para mahasiswa, mereka hanya mampu berteriak tapi gagal bertindak. Mahasiwa tidak lagi menjadi element penting dalam pembangunan, hal ini di­sebabkan banyaknya gerakan-gerakan yang menyimpang dan mengalami distorsi.


Masuk dalam Permainan Politik

Perubahan paradigma masyarakat terhadap stigma mahasiswa yang dizaman demokrasi ini, tentu tidak bisa disalahkan begitu saja. Realitasnya, gerakan mahasiwa saat ini cendrung anarkis. Mereka justru tampak lebih senang jika aksinya berujung bentrok hingga merusak segala fasilitas yang berada ditempat dimana suara besarnya diperdengarkan. Ironisnya, gerakan mahasiswa disinyalir banyak ditunggangi oleh orang-orang yang memilki kepen­tingan politik. Mahasiswa hanya dijadikan sebagai boneka untuk memuluskan langkah para politikus tersebut. Bodohnya lagi, mahasiswa sebetulnya mengetahui hal tersebut namun mereka tetap semangat dan mengikuti setiap intruksi yang dipe­rintahkan. Kesenangan mahasiswa untuk tetap berada dalam lingkaran pembodohan itu, bukan tanpa alasan. Iming-iming uang dan janji yang membuat mahasiswa tetap berada pada garis hitam itu.

Bukan tidak mungkin hal ini terjadi, apalagi sekarang terkhusus Sulawesi-Selatan sedang persiapan Pemilihan Kepala Daerah (PILKADA). Tentu banyak calon memakai topeng dengan melakukan pendekatan berbagai wilayah lapisan masyarakat. Dan mayoritas mahasiswa dijadikan sebagai target utama sebab dianggap orang yang paling mampu membawa pengaruh besar terhadap perubahan sosial.Yakin dan pasti para calon yang akan maju dalam Pilkada, sudah me­nyiapkan berjuta senjata untuk menjadi winner dalam laga itu. Maka peluru utamanya adalah mahasiswa.

Mungkin saja, saat ini sejumlah mahasiswa diberbagai instansi belum menyadari secara jelas kasus ini. Tapi perlu diketahui, ini adalah bomerang bagi mahasiswa. Mereka akan masuk untuk menggerogoti setiap tubuh mahasiswa. Sehingga, bukan tidak mungkin integritas mahasiswa akan mati dan meruntuh. Mereka seakan-akan muncul sebagai pahlawan dan tak jarang berwujud sebagai orang yang dermawan. Kapita­lisme terhadap dunia pendidikan akan tetap tumbuh jika saja isu ini bergulir menjadi kenyataan. Walaupun, tak jarang pula para pemeran politik praktis itu sudah banyak yang membuat konstalasi tertentu dengan beberapa pihak kampus.

Kehidupan mahasiswa memang sa­ngat sulit untuk dihindari dari dunia politik. Politik ibarat benalu yang selalu berada pada tubuh setiap instansi yang memiliki rakyat yang mudah untuk dimasuki. Disinilah diperlukan daya kritis mahasiswa untuk menganalisis setiap gerakan-gerakan dari pojok luar. Karena, apabila kondisi ini tidak segera dicegat, maka jangan salahkan siapa-siapa, saat politik menular di ranah kampus.

Berbagai pendekatan politik yang ditempuh para politik saat ini tidak harus menghadirkan tokohnya untuk terjun langsung mendoktrin para mahasiswa untuk mengikuti misi dari politikus itu. Terkadang, para calon hanya mengirim koleganya untuk bekerja dibawah tanah Intelektual, untuk memengaruhi para penghuninya. Arena politik dalam dunia kampus, saat ini telah dimainkan oleh sejumlah aktor mahasiswa yang telah runtuh independensinya. Sementara sang politikus, tertawa dengan aksi licik yang dijalankannya, saat itu pula mahasiswa lambat laung akan menjadi tumbal ditengah pergulatan politik yang semakin memanas.

Apalagi kasus baru-baru ini, salah satu universitas di Makassar, terjadi kisruh antar mahasiswa yang satu atap, hanya karena menentang adanya pembentuk kampus III. Hal ini jelas, ada oknum yang coba menggulir wacana  yang menjadikan mahasiswa sebagai alatnya untuk kepentingan politik.


Gerakan dalam Tempurung

Tak hanya dunia politik yang saat ini menjangkit mahasiswa, namun gerakan mahasiswa yang hanya berada dalam kampus juga terancam mati. Sudah jarang terdengar nyanyian menyurakan aspirasi rakyat . Kondisi ini, nampak dibeberapa universitas yang ada di Makassar. Sejak beberapa bulan terakhir tak ada lagi aksi yang mempertaruhkan idealisme yang dianut.

Tentu saja, gambaran kondisi ini menindikasikan adanya ketakutan yang menyelimuti benak para aktivis kampus terhadap sejumlah ancaman-ancaman dari birokrasi. Apalagi, sudah banyak bukti yang diperlihatkan para petinggi kampus dalam menunaikan ancamannya. Fakta membuktikan, efek dari gerakan mahasiswa yang dinilai merugikan sejumlah pihak mendapat imbasnya. Kasus pencopotan status mahasiswa terhadap 19 mahasiswa Universitas Negeri Makassar (UNM) yang diduga bermula dari aksinya menolak Dana Penunjang Pendidikan (DPP), begitupula aksi yang dilakukan sekelompok mahasiswa dalam berbagai tuntutannya justru mendapat hadiah skorsing dan DO. Kasus ini menjadi salah satu contoh kecil betapa tajamnya taring birokrasi.
Potret lain, birokrasi seakan tuli, ketika sejumlah mahasiswanya berteriak didepan gedung jabatannya. Suara mahasiswa tidak lagi menjadi suara emas yang mampu merubah segala kebijakan kampus. Aksi mahasiswa tak bernilai lagi, kehadirannya hanya dianggap sebagai angin lalu yang tak membawa pengaruh terhadap tindakan-tindakan birokrasi. Bagaimana kiranya ketika mahasiswa hanya berteriak dalam tempurung, maka tak ada satupun orang lain yang peduli keberadaannya.

Cukup dengan Menulis

Wujud perlawanan mahasiswa dalam arus globalisasi yang ditandai dengan pesatnya perkembangan teknologi, tidak mesti diterjemahkan dalam bentuk demonstrasi. Mahasiswa harus mampu selektif dalam memilih metode perlawanan yang efektif. Agar kiranya eksistensi mahasiswa tidak meredup.

Ketika mulut dibungkam, maka jalan satu-satunya adalah menulis. Kalimat ini tampaknya perlu diaplikasikan, mahasiswa adalah kaum cendekia yang penuh keratifitas. Setidaknya, dengan menulis mahasiswa mampu memperlihatkan kegelisahannya dalam menghadapi sekelumit masalah dalam kacamatanya.

Apalagi, untuk membendung masuk­nya pengaruh politik dalam kampus, menulis juga menjadi alternatif paling baik. Me­nulis mampu mengalihkan pikiran seseorang untuk lebih acuh mengadapi pe­ngaruh-pengaruh negatif yang berbau politik. Bahkan, menulis bisa menjadi senjata paling ampuh untuk memusnahkan segala praktik manipolitik, cukup dengan menyerangnya lewat tulisan yang sekiranya mampu memberi daya tarik terhadap kerabat mahasiswa lainnya untuk menghindari hal itu.

Terlepas dari metode menulis, sekiranya integritas dan Independensi mahasiswa saat ini tidak mudah diruntuhkan oleh keadaan apapun yang menghadang­nya. Sebab ketika hal itu rusak, maka keberadaan mahasiswa tidak lagi sebagai pemegang tongkat estapet. Harapan bangsa pun akan sirna. 

Dikutip dari: Asri Ismail (Ketua Umum Himpunan Mahasiswa, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia UNM)